Sabtu, 28 Mei 2011

Nyamuk Penyebar Malaria Berevolusi

Penyakit malaria masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan kasusnya semakin meluas di masyarakat. Hal ini tecermin dari menurunnya persentase rumah tangga yang bebas dari penyakit malaria.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, 91,8 persen rumah tangga bebas malaria. Namun, berdasarkan Riskesdas 2010, rumah tangga bebas malaria turun menjadi 71,6 persen yang artinya malaria semakin meluas. Rumah tangga bebas malaria tertinggi menurut Riskesdas 2010 di Provinsi Yogyakarta (85,5 persen) dan terendah di Provinsi Papua Barat (22,8 persen).
”Yang banyak meningkat ialah pada rumah tangga dengan satu penderita malaria. Terjadi peningkatan sekitar 12 persen,” ujar Didik Budijanto, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya, pekan lalu, dalam acara Simposium Nasional VI Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan bertajuk ”Merajut Karya Ilmiah, Peduli Kesehatan Bangsa”.

Dia mengatakan, dengan tingkat analisis rumah tangga, bukan pada individu, dapat diketahui kesehatan sebuah rumah tangga yang sangat penting sebagai basis kesehatan masyarakat secara umum. ”Keberadaan penyakit, seperti malaria, menunjukkan rumah tangga dan lingkungan yang belum sesuai harapan,” ujarnya.
Tidak hanya malaria, terjadi juga penurunan rumah tangga bebas tuberkulosis paru dari 96,6 persen (tahun 2007) menjadi 90,4 persen pada 2011. Status malaria dan tuberkulosis termasuk penyakit yang menjadi indikator status kesehatan rumah tangga di Indonesia. Dalam mengatasi penyakit, termasuk malaria, tindakan pencegahan menjadi sangat penting.

Hal senada terungkap dalam penelitian yang dilakukan Made Asri Budisuari dan Astridya Paramita dari Puslitbang Sistem Kebijakan kesehatan, Badan Litbangkes, mengenai ”Analisis Hubungan Penyakit Malaria dan Pencegahan Malaria di Indonesia”. Penelitian itu merupakan analisis lanjut berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 guna mendapatkan gambaran perilaku pencegahan malaria yang meliputi karakteristik responden, keadaan wilayah, dan status sosial ekonomi. Salah satu sebab suburnya penyakit malaria di Indonesia ialah iklim dan lingkungan yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles.

Dalam studi itu disimpulkan, penderita malaria paling banyak berusia 5-14 tahun, laki-laki, tinggal di pedesaan, berpendidikan tamat SD/MI, tidak bekerja atau bersekolah, dan memiliki tingkat pengeluaran per kapita rendah. Selain itu diperoleh fakta, mereka yang memiliki perilaku pencegahan baik ternyata lebih sedikit yang terkena malaria dibandingkan dengan mereka yang kurang baik perilaku pencegahannya.
Para peneliti tersebut menyarankan pengelolaan lingkungan yang sehat untuk mencegah perkembangbiakan vektor nyamuk. Selain itu, diperlukan pula pelayanan kesehatan, antara lain rapid diagnostic test (RDT) dan perilaku pencegahan, seperti pemakaian kelambu berinsektisida, penyemprotan, dan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk memberantas malaria perlu dilakukan kerja sama lintas sektor.

Dua galur nyamuk penyebar penyakit malaria di Afrika berevolusi secara genetik hingga menjadi spesies baru yang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu diketahui dari penelitian internasional yang dipimpin ilmuwan dari Imperial College London (ICL) tentang galur M dan galur S pada nyamuk Anopheles gambiae yang ada di Sub-Sahara Afrika.

Secara fisik, galur M dan S itu identik. Namun, secara genetik, keduanya berbeda sehingga jenis nyamuknya pun seharusnya dibedakan. Perbedaan genetik itu membuat upaya mengontrol populasi nyamukAnopheles gambiae dipastikan hanya efektif untuk satu galur dan tidak efektif untuk galur yang lain. Karena itu, jika akan dibuat insektisida untuk membasmi nyamuk tersebut, insektisidanya harus efektif untuk kedua jenis galur.
Pemimpin peneliti, George Christophides dari Divisi Sel dan Biologi Molekuler pada ICL, seperti diberitakan ScienceDaily, menyebutkan, malaria adalah penyakit mematikan. Satu dari lima kematian yang terjadi di Afrika disebabkan oleh malaria. ”Cara yang tepat untuk membasmi malaria adalah dengan mengontrol nyamuknya sebagai pembawa penyakit,” katanya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 200 juta orang terserang malaria di seluruh dunia, sebagian besar ada di Afrika. Malaria membunuh satu anak setiap 30 detik.
Peneliti lain dari ICL, Mara Lawniczak, mengatakan, studi menunjukkan, evolusi nyamuk penyebar malaria jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Untuk itu, pemantauan genetik tersembunyi pada nyamuk perlu dilakukan jika ingin sukses dalam mengatasi malaria karena strategi menghadapi satu galur nyamuk berbeda dengan strategi untuk menghadapi galur yang lain.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes