Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Ilmuwan: Ada Lautan Dibawah Permukaan Es Planet Pluto

Pluto, yang dulu dianggap sebagai planet di tata surya kita, diyakini memiliki lautan di bawah permukaan esnya.
Pasalnya panas radioaktif memiliki kemungkinan telah memanaskan inti dari Pluto. Demikian menurut sebuah penelitian terbaru.

Meski suhu permukaannya sangat dingin akan tetapi planet kecil tersebut cukup hangat untuk memiliki lautan di bawah permukaannya.
Menurut sebuah peragaan yang ditujukan untuk mengukur tingkat panas radioaktif yang bisa memanaskan inti dari Pluto. Demikian diberitakan National Geographic.

"Lautan tersebut diperkirakan seluas 100 sampai 170 kilometer, yang ditutupi oleh lapisan es setebal 200 kilometer," ujar Guilaume Robuchon, ilmuwan dari University of California, Santa Cruz.

Apabila ini benar, berarti Pluto akan bergabung dengan Titan dan Enceladus, planet satelit milik Saturnus yang dipercaya memiliki sumber air.

Meskipun permukaan planet Pluto bersuhu sekira -230 derajat celsius namun air di bawah permukaannya mungkin tidak akan ikut membeku, menurut sebuah peragaan yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut.
"Es adalah materi perekat yang baik," ujar Francis Nimmo dari University of California, yang juga rekan dari Robuchon.

Robuchon menambahkan bahwa model peragaannya menunjukkan bahwa bagian dalam Pluto bisa mengandung air, asalkan inti dari Pluto mengandung setidaknya ratusan bagian per miliar kadar radioaktif potassium. Lalu, batuan di Pluto juga harus bertumpuk di inti yang berbatu, dengan air dan permukaan yang dilapisi oleh es.

Bukan hanya itu,  Pluto juga diyakini memiliki atmosfir yang unik. Dibandingkan dengan milik Bumi, atmosfir di Pluto terbalik. Semakin tinggi, suhunya semakin tinggi, bukannya semakin rendah.

Dari pengukuran yang dilakukan oleh astronom, menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory, diketahui bahwa metana merupakan gas kedua paling banyak yang ada di atmosfirnya. Gas itu juga lebih panas di tempat yang lebih tinggi dibanding di permukaan planet.

Efek sampingnya, atmosfir bagian atas Pluto memiliki suhu sekitar 50 derajat Celcius. Lebih hangat dibandingkan dengan suhu di permukaan Pluto yang mencapai 230 derajat Celcius di bawah 0.

Menurut spekulasi Emmanuel Lellouch, ketua tim peneliti dari Paris Observatory, Prancis, di permukaan Pluto terdapat lapisan tipis beku dari metana dan gas-gas lain.

“Saat orbit Pluto sedang dekat dengan Matahari, gas beku itu menguap,” kata Lellocuh.

“Proses ini, disebut juga dengan sublimasi, mendinginkan permukaan Pluto sekaligus menghangatkan atmosfirnya,” ucapnya.

Menurut Leslie Young, Deputy Project Scientist for NASA, penemuan itu memberi petunjuk terhadap observasi lebih lanjut yang akan dilakukan satelit New Horizons.

“Kita tahu bahwa Pluto mengalami perubahan saat ia mengelilingi Matahari,” ucap Young.

“Mengombinasikan hasil temuan observasi di bumi dengan data yang akan dikumpulkan New Horizons akan memberikan petunjuk jelas seputar perilaku planet kerdil tersebut,” ucapnya.

Sebagai informasi, satelit New Horizons yang diluncurkan pada 19 Januari 2006 diperkirakan akan tiba di orbit Pluto pada 14 Juli 2015 mendatang.

Jumat, 27 Mei 2011

Ilmuwan Temukan Petunjuk Terbaru Untuk Temukan Alien di Mars

Ilmuwan menemukan banyak deposit karbon di bawah permukaan Mars. Ini bisa jadi bukti adanya kehidupan ratusan juta tahun lalu di planet merah itu.

Sebelumnya, ilmuwan sempat menemukan sejumlah kecil mineral di Mars.
Namun, limpahan materi ini menunjukkan adanya gas rumah kaca yang menciptakan kemungkinan permukaan Mars basah dan lebih hangat ratusan juta tahun lalu.

Ilmuwan menggunakan data satelit untuk menganalisis geologi wilayah Mars yang dikenal dengan nama Kawah Leighton di dekat gunung berapi Mars yang sangat luas Syrtis Major, dengan lebar 750 mil.
Tim percaya bahwa sedimen kuno yang terkubur dalam materi vulkanik ini keluar saat terjadi letusan Syrtis Major.

Mineral tersebut kemungkinan berasal dari air yang kaya karbonat di mana berinteraksi dengan batuan. Ini menunjukkan bahwa Mars zaman dahulu lebih panas dari perkiraan sebelumnya.
Dr Joseph Michalski dari Planetary Science Institute, Arizona, dan Dr Paul Niles dari Johnson Space Centre NASA, Houston, mengatakan bahwa permukaan Mars saat ini dingin, kering, penuh asam dan tidak dapat dihuni.

Namun, kondisi ini mungkin berbeda pada waktu lampau. “Salah satu petunjuk adanya kondisi layak huni adalah keberadaan atmosfer yang mengandung metana. Ini mungkin terbentuk apabila muncul proses hidrotermal dalam kerak bumi terkait kandungan karbon dioksida.”

Sebelumnya, deteksi mineral karbonat dapat dikaitkan dengan lingkungan yang kaya karbon dioksida. Bagian tanah yang padat karbon dioksida juga berarti terjadinya efek rumah kaca di Mars.
Kondisi saat ini adalah atmosfer begitu tipis sehingga gas dapat dengan mudah tertiup di angkasa dan berinteraksi dengan air sehingga terbentuk batuan.

Karbonat juga menjadi bukti bahwa air merupakan unsur kimia yang netral. Ini membuat kemungkinan kondisi adanya kehidupan primitif di Mars.

Kumpulan mineral, sifat tekstur dan konteks geologi dari deposit mineral tersebut menunjukkan adanya kemungkinan batuan sedimen telah bermetamorfosa selama penguburan materi vulkanik muda.

Rabu, 25 Mei 2011

Ilmuwan Temukan Ikan "Hantu" Spesies Baru di Kedalaman Ekstrim

Eksplorasi terhadap salah satu palung laut terdalam di dunia berhasil menemukan spesies baru ikan. Penemuan itu membuktikan kekeliruan anggapan semula bahwa tak ada ikan yang hidup dalam palung laut.
Penemuan ahli biologi kelautan dari Aberdeen, Tokyo, dan Selandia Baru itu telah menyingkap kehidupan di salah satu tempat terdalam di bumi dan distribusi global ikan serta organisme laut lainnya. Ekspedisi ke palung Peru-Cile di Samudra Pasifik tenggara itu menemukan spesies baru snailfish di kedalaman 7.000 meter.
Mereka juga menemukan sekelompok cusk-eel, ikan sejenis belut, dan krustasea pemakan bangkai di kedalaman laut itu untuk pertama kalinya.

Dalam ekspedisi selama tiga pekan di atas kapal riset Sonne itu, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pencitraan canggih, termasuk sistem kamera yang dapat menyelam bebas untuk mengambil 6.000 gambar dalam palung di kedalaman 4.500 dan 8.000 meter.

"Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim."

Para ilmuwan menyelidiki pada salah satu parit terdalam di dunia laut – yang sebelumnya dianggap tidak dihuni ikan – telah menemukan sebuah spesies yang sama sekali baru.
Temuan oleh tim ahli biologi laut dari Aberdeen, Tokyo dan Selandia Baru, telah memberikan penerangan baru tentang kehidupan di tempat-tempat terdalam di bumi dan distribusi global ikan di lautan kita.
Ekspedisi ke dalam parit Peru-Chili di selatan Samudra Pasifik Timur mengungkapkan spesies baru snailfish di kedalaman 7000 meter, belum pernah tertangkap atau terekam kamera.
Kelompok-kelompok masal belut-cusk dan pemakan bangkai crustacean besar juga ditemukan hidup di kedalaman ini untuk pertama kalinya.

Selama tiga minggu ekspedisi dengan kapal riset Sonne, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pencitraan keadaan-seni-kedalaman-laut, termasuk sistem kamera berumpan bebas-tenggelam pada ultra-kedalaman laut, untuk mengambil total 6000 foto di antara 4500 dan 8000  meter di kedalaman parit.
Ini merupakan espedisi ketujuh yang berlangsung sebagai bagian dari HADEEP – sebuah proyek penelitian kolaboratif antara Oceanlab Universitas Aberdeen dan Institut Penelitian Kelautan Universitas Tokyo, dengan dukungan dari Institut Air dan Atmosfer Nasional (NIWA) Selandia Baru.

Tim HADEEP telah menyelidiki kedalaman ekstrim di seluruh dunia selama 3 tahun. Temuan mereka sampai saat ini telah menyertakan penangkapan ikan dengan kamera di dunia terdalam untuk pertama kalinya.
Penemuan-penemuan terbaru ini memberikan wawasan baru ke kedalaman di mana ikan bertahan dan keragaman populasi yang bisa berada di titik-titik terdalam samudera di seluruh dunia.

Dr Alan Jamieson dari Oceanlab Universitas Aberdeen, yang memimpin ekspedisi, mengatakan: “Temuan kami, yang mengungkapkan spesies yang beragam dan melimpah pada kedalaman yang sebelumnya dianggap hampa ikan, akan meminta suatu pemikiran kembali mengenai populasi laut di kedalaman ekstrim.
“Ekspedisi ini dipicu oleh temuan kami tahun 2008 dan 2009 di Jepang dan Selandia Baru, di mana kami menemukan spesies baru snailfish yang dikenal sebagai Liparids – parit-parit tanpa habitat di Jepang dan Selandia Baru pada kedalaman sekitar 7000 meter – dengan masing-masing parit menjadi kediaman tersendiri bagi spesies ikan yang unik.

“Untuk menguji apakah spesies ini akan ditemukan di semua parit, kami mengulang eksperimen kami di sisi lain Samudera Pasifik di Peru dan Chile, sekitar 6000 mil dari pengamatan terakhir kami.” Apa yang kami temukan adalah bahwa memang ada spesies unik lainnya yang hidup,snailfish di kedalaman 7000 meter – spesies yang sama sekali baru bagi ilmu pengetahuan, yang tidak pernah tertangkap atau terlihat sebelumnya.
“Spesies belut-cusk – dikenal sebagai Ophidiids – juga berkumpul di depan kamera kami dan mulai berebut makanan (umpan pada kamera) selama 22 jam – keseluruhan durasi penyebaran.
“Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguraikan apakah ini juga spesies belut-cusk yang sama sekali baru yang telah kami temukan.

“Penyelidikan kami juga mengungkapkan spesies pemakan bangkai crustacea – dikenal sebagai amphipod – yang sebelumnya tidak kami ketahui berada di kedalaman ini dalam jumlah besar.
“Makhluk ini seperti udang besar dalam satu kelompok tertentu, yang disebut Eurythenes, umumnya jauh lebih besar dan lebih banyak berada di parit daripada yang pernah ditemukan sebelumnya.”
Dr Niamh Kilgallen, seorang ahli amphipod dari Niwa mengatakan: “Kelimpahan dari amphipod besar saja sudah sangat luar biasa, khususnya pada kedalaman 7000, dan 8000 meter yang jauh lebih dalam dari yang telah ditemukan di dalam parit lain. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa dan bagaimana mereka dapat hidup di parit yang begitu dalam ini tetapi tidak di tempat lainnya.”

Dr Toyonobu Fujii, ahli ikan laut dari Universitas Aberdeen mengatakan, “Seberapa dalam ikan bisa hidup telah lama menjadi pertanyaan yang menarik, dan hasil dari ekspedisi ini telah memberikan wawasan lebih dalam pada pemahaman kita tentang distribusi global ikan di lautan.”
Dr Jamieson menambahkan: “Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim. Selanjutnya, sekarang jelas bahwa masing-masing dari kedalaman parit di seluruh dunia mengatur perakitan unik hewan yang dapat berbeda jauh dari parit ke parit. Isolasi besar setiap parit menggambarkan kesejajaran dengan teori evolusi kepulauan yang dipopulerkan oleh burung-burungfinch Darwin.” Proyek HADEEP ini didanai oleh Nippon Foundation, Jepang, dan NERC, Inggris.

Selasa, 24 Mei 2011

Suku Aborigin Adalah Astronom Pertama di Dunia?

Astronom pertama di dunia adalah suku Aborigin? Studi Australia memaparkan, suku ini menjadi astronom pertama sejak zaman Stonehenge dan Piramid.
Astronom Commonwealth Scientific and Research Organization (CSIRO) Australia, Profesor Ray Norris mengatakan pengetahuan menyangkut bintang telah diturunkan secara turun temurun oleh suku Aborigin selama ribuan tahun dalam bentuk lagu tradisional dan cerita.
“Ada banyak cerita mengenai angkasa, lagu, legenda dan mitos,” kata Norris.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, Norris menemukan bahwa orang-orang ini menggunakan langit sebagai navigasi untuk menentukan waktu dan menandai musim.
Melalui penelitiannya, ia berhasil mengungkap detail pemikiran astronomi suku itu.
“Jelas sekali, beberapa pemikir kala itu bersembunyi dibalik semak, melihat gerhana dan mencari tahu cara kerjanya,” jelas Norris.
Kemudian para pemikir itu mengubah pemikiran mereka menjadi lagu dan upacara.
“Menurut cerita mereka, gerhana adalah wanita matahari dan pria bulan yang sedang bercinta.”
Saat ini, Norris sedang mencari bukti untuk menentukan kapan Aborigin menjadi astronom.
Norris mencari bukti-bukti penanda berbagai kejadian penting dalam rekaman astronomi Aborigin kuno ini, seperti peristiwa jatuhnya meteor atau penampakan komet, untuk memberikan kerangka waktu masa hidup peradaban tersebut.

Ia yakin, para astronom Aborigin sudah ada jauh sebelum orang-orang di Eropa mulai mengamati langit, seperti yang terlihat dari peninggalan arkeologi di Stonehenge, Inggris, yang berasal dari era tahun 3.500 sebelum Masehi atau kira-kira pada zaman yang sama dengan peradaban piramida raksasa di Mesir.
“Kami mengetahui astronomi mereka, apa yang tidak kami ketahui adalah sejak kapan mereka memulainya"
"Jika hal ini dimulai 10 ribu atau 20 ribu tahun lalu, maka astronom dari suku Aborogin merupakan suku astronom pertama di dunia,” katanya.

'Airburst' Dapat Sebabkan Kiamat Pada Bumi

Lupakan bayangan asteroid besar mengancam bumi seperti di film “Armageddon”. Penghuni bumi justru harus mewaspadai asteroid yang lebih kecil.

Asteroid-asteroid yang memiliki ukuran lebih kecil dapat meledak di atmosfer bumi.

Menurut ilmuwan, batu luar angkasa yang meledak (airburst) pada 1908 di Tunguska dan Siberia jauh lebih mengancam. Objek seperti itu dapat menghantam bumi setiap 12 tahun.

Bahaya ledakan asteroid itu menjadi pembicaraan di konferensi Luar Angkasa 2010 September lalu di California, Amerika Serikat.

Fisikawan Mark Boslough dari Sandia National Laboratories Albuquerque mengatakan, “Kami belum mengetahui fisik airburst, dan penelitian tentang hal itu belum pernah dilakukan.”

Menurut model airburst yang ada, Boslough menyebutkan ledakan ini mengeluarkan panas tinggi dan menciptakan ledakan angin yang sangat besar hingga menyentuh tanah.

“Kita memang harus memikirkan hal kecil,” katanya. Selain itu, asteroid yang cukup besar dan berhasil masuk ke dalam atmosfer bumi sebelum meledak akan menciptakan gas mendesis yang dapat membakar apa pun.

Vegetasi akan menguap dan batu meleleh, pendeknya ledakan itu sangat mengerikan. Situasi serupa pernah terjadi 30 juta tahun lalu di gurun Libya, kata Boslough.

Secara statistik, kemungkinan bumi dihantam objek besar menjadi kecil dengan banyaknya asteroid-asteroid kecil ditemukan.

“Ada banyak objek kecil sehingga kita sebaiknya membuat lebih banyak teleskop,” katanya.

Jika objek kecil ini ditemukan “Kita tak punya pilihan selain menerima hantamannya,” katanya.

Direktur Center for Orbital and Reentry Debris Studies Bill Ailor mengatakan, “Kita selalu membicarakan asteroid besar saja dan kita berhasil melewati ancaman itu.

Namun, asteroid kecil terus menjadi ancaman dan tantangannya adalah apa yang akan kita lakukan.”

Senada, manager Near-Earth Object Program Office NASA, Don Yeomans di Jet Propulsion Labolatory Pasadena, California mengatakan, “Kita bisa mendeteksi asteroid besar, namun masih sangat jauh untuk dapat mendeteksi yang kecil.”

“Kita harus mencari mereka sebelum mereka menemukan kita.”

Sabtu, 21 Mei 2011

Hobbit Adalah Keturunan Manusia Dari Dimensi Yang Berbeda?

Hobbit makhluk kerdil asal Flores, terus menimbulkan perdebatan di antara para ahli. Terbaru, ilmuwan menilai hobbit berhubungan dengan kompleksitas keluarga manusia.
Hobbit seringkali dianggap spesies yang berbeda dari manusia karena bertubuh kecil, manusia yang menderita penyakit tertentu atau malah spesies berotak kecil yang mampu menggunakan alat.

Teori terbaru yang muncul di Journal of Human Evolution menyebutkan bahwa makhluk ini berasal dari keturunan manusia berdasarkan urutan sejarah pramanusia setinggi 5 kaki yang punah lebih dari 12 ribu tahun lalu.
Studi yang dilakukan oleh John Trueman dari Australian National University ini menawarkan alternatif baru.
Daripada menggolongkan hobbit dalam pohon keluarga manusia, Trueman memandang ‘pohon keluarga’ ini memiliki tiga dimensi yang saling berhubungan.

“Lebih baik menjelaskan hal ini dengan menganggap adanya kompleksitas keturunan jauh kita, di mana menjadi tempat segala macam spesies muncul jutaan tahun lalu"
"Sayangnya, ada beberapa hal yang memisahkan kemudian terjadi perkawinan dengan makhluk yang berbeda. Ini termasuk kelompok spesies yang telah punah yaitu hobbit atau Homo floresiensis,” kata Trueman.

Trueman beragumentasi bahwa analisis multidimensional ini memberikan kejelasan soal sejarah hobbit kuno. Makhluk ini diperkirakan merupakan keturunan Australopithecus africanus , spesies mirip kera yang hidup pada masa 2 juta tahun lalu. Spesies ini mengalami perkawinan silang sehingga menciptakan keturunan baru.
Trueman juga setuju bahwa hobbit termasuk keturunan manusia kuno. Pernyataan ini turut pula diamini oleh Debbie Argue dari ANU. “Trueman menampilkan hipotesis alternatif bagi perkembangan manusia daripada sekadar pandangan alternatif bagiHomo floresiensis,” kata Argue.

Argue juga melihat adanya kesamaan antara hobbit dengan manusia kuno lainnya dalam penggunaan alat. Meskipun hobbit memiliki fitur primitif, bentuk kerangka tengkorak spesies ini sedikit mirip dengan keluarga manusia.

“Bentuk otak menjadi sangat penting untuk dipelajari daripada sekadar ukuran otak,” kata Argue lagi.

Foto Badai Earl Dari luar Angkasa

Astronot Doglas H Wheelock memposting foto spektakuler Badai Earl yang diambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional dalam akunnya di situs microblogging, Twitter.

Letkol Wheelock mengunggah gambar badai -- yang oleh televisi dan media digambarkan sebagai momentum badai yang menakutkan.

Ahli meteorologi Amerika Serikat (AS) telah menaikkan kategori Badai Earl menjadi empat -- peringatan potensi 'bencana kerusakan' bisa terjadi saat badai itu melintasi daratan Karibia sampai AS.

Earl telah menyapu daerah utara Virgin Island Senin pagi. Pada Kamis 19 Mei diperkirakan akan melewati Pulau Turks dan Caicos, dan Kepulauan Bahama sebelum menuju ke pantai timur AS pekan depan. 

Dalam skala Saffir-Simpson, dari 1 sampai 5, yang digunakan oleh Pusat Nasional Badai AS atau US National Hurricane Center -- kategori empat yang dimiliki Badai Earl adalah peringatan 'bencana kerusakan besar bisa terjadi'. Dengan risiko tinggi kerusakan struktural.
"Ini sangat berisiko tinggi, kecelakaan bahkan kematian bagi manusia, ternak, dan binatang peliharaan dikarenakan bangunan yang runtuh atau jatuh," demikian informasi US National Hurricane Center seperti diberitakan Daily Telegraph.

Berhembus dengan kekuatan 215 kilometer per jam, Earl menyerang diiringi hujan deras dan angin kencang besar yang mengaduk wilayah timur laut Karibia.

Saat bergerak ke barat laut dengan kecepatan 24 kilometer per jam, Badai Earl mengitari dataran rendah pulau, tanpa membuat pendaratan.

Ini membuat peringatan sebelumnya diturunkan menjadi peringatan badai tropis untuk Puerto Rico, Amerika Serikat dan British Virgin Islands.
Kekuatan badai Earl bisa lebih kuat dalam beberapa hari mendatang. Demikian disampaikan pusat pemantau badai.

Ilmuwan Temukan Bahasa Yang Hilang Dari abad Ke-17

Bahasa tutur Peru yang dinyatakan hilang berhasil ditemukan di antara puing-puing gereja.

Surat berusia 400 tahun yang ditemukan mengungkap bahasa tutur itu.
Bahasa ini telah dicatat oleh seseorang tidak dikenal asal Spanyol dan hilang selama empat abad.
Potongan kertas usang ini berhasil ditemukan di gereja kuno kolonial Spanyol pada 2008.
Namun tim ilmuwan dan ahli bahasa baru-baru ini berhasil mengungkapkan pentingnya kata-kata yang tertulis di sisi belakang surat.
Penulis di masa awal abad ke-17 sempat mengartikan beberapa bahasa Spanyol serta angka Arab ke dalam bahasa misterius yang belum pernah dilihat oleh para sarjana modern.
“Meskipun surat ini tidak menginformasikan banyak hal, tapi menunjukkan bahwa bahasa tersebut sangat berbeda dengan apa yang pernah kita kena"
"Hanya itu, bahasa asing lain mungkin banyak di luar sana,” kata pemimpin penelitian ini, Jeffrey Quilter, seorang arkeolog di Peabody Museum of archaeology and Ethnology, Harvard.
Bahasa asli yang baru saja ditemukan ini kemungkinan diambil dari Quechua, bahasa yang masih dipakai oleh beberapa masyarakat adat di peru, ujar Quilter.
Bahasa tersebut memiliki bentuk pengucapan yang unik di mana salah satunya berarti bahasa yang digunakan untuk memancing.
Penemuan bahasa baru di Magdalena de Cao Viejo membantu para ahli memahami keragaman yang kaya pada budaya masa kolonial awal Amerika, kata Quilter.
“Kita sering kali berpikir adanya pergolakan di masyarakat Spanyol dan penduduk asli Amerika. Hampir setiap lokasi, terutama Massachusetts dan Peru, menunjukkan konfrontasi sekaligus menciptakan kelompok yang lebih beragam.”
"Itu benar-benar menunjukkan betapa kaya dan beragam dunia ini."

Selasa, 26 April 2011

Box Jellyfish, Hewan Berbahaya dan Paling Beracun di Dunia

Ular kobra, gurita bercincin biru, kalajengking, ataupun laba-laba pengembara Brazil merupakan hewan-hewan yang sangat beracun.

Namun di atas semua itu, masih ada satu hewan lain yang memiliki racun paling mematikan.

Hewan tersebut adalah Box Jellyfish atau ubur-ubur kotak (Chironex fleckeri).
Sejak tahun 1954, sebanyak 5.567 orang tercatat tewas tersengat tentakel atau sungut mereka. Angkanya kemungkinan lebih dari itu.

Seperti diberitakan Dumage, racun ubur-ubur satu ini merupakan yang paling mematikan di dunia.

Jika tersengat, racun akan menyerang jantung, sistem syaraf dan sel-sel kulit. Dan parahnya, bisa box jellyfish sangat menyakitkan sehingga orang yang terkena akan mengalami shock, serangan jantung atau tewas tenggelam sebelum mampu keluar dari air.
Mereka yang berhasil selamat dari serangan ubur-ubur kotak akan mengalami kesakitan beberapa pekan setelah bersentuhan dengannya. Padahal, manusia tidak memiliki peluang untuk selamat jika racunnya sudah menyebar lewat pembuluh darah.

Mereka yang terkena bisa ubur-ubur ini harus diberi cuka setidaknya 30 detik setelah bersentuhan.

Menurut penelitian, cuka mengandung asam asetat yang mampu melumpuhkan nematocysts ubur-ubur yang belum masuk ke dalam aliran darah (meski langkah ini tidak menghilangkan rasa sakit).

Mengenakan pakaian renang yang menutupi tubuh saat berenang di laut merupakan salah satu tindakan pencegahan yang baik untuk mengurangi risiko ubur-ubur menyerang kaki Anda. Ubur-ubur jelly box yang sangat beracun ini sendiri hidup di perairan sekitar Asia dan Australia.

NASA Rilis Foto Galaksi 'Mawar' Yang Sangat Unik

Di ulang tahunnya yang ke-21, teleskop Hubble milik NASA merilis foto galaksi unik berbentuk mawar.

Foto unik tersebut terdiri dari dua galaksi yang terlihat saling terkait satu sama lain dengan sabuk pengikat berupa jutaan bintang. Demikian seperti yang diberitakan Channel4.
Dua galaksi tersebut, yang dikenal dengan ARP 273 yang berada di konstelasi Andromeda berjarak 300 juta tahun cahaya dari Bumi.

Sebenarnya foto tersebut diambil pada bulan Desember tahun lalu.
Namun foto ini baru dirilis ke publik oleh NASA untuk merayakan ulang tahun ke-21 teleskop angkasa Hubble.

Teleskop diluncurkan pada bulan April 1990 pada misi STS-31 di Discovery.
Semenjak itu, teleskop ini menjadi salah satu alat penting dalam dunia penelitian astronomi saat ini.

Di usianya yang ke-21, teleskop tersebut telah mengelilingi Bumi sebanyak 115 ribu kali, yang bisa disamakan dengan penerbangan sejauh 3 miliar mil.

Melalui teleskop Hubble, para ahli astronomi telah berhasil menerbitkan hampir 10 ribu makalah, yang membuatnya sebagai salah satu instrumen penting dalam dunia astronomi saat ini.

Teleskop Hubble juga merupakan teleskop luar angkasa terlama yang beroperasi.

Ternyata Mars 30 Kali Lebih 'Basah' Dari Perkiraan

NASA menemukan bahwa daerah kutub selatan di Mars memiliki es yang 30 kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Penemuan ini mengungkapkan bahwa planet merah tersebut lebih basah dari perkiraan ilmuwan sebelumnya, ungkap sebuah studi. Demikian seperti yang diberitakan AFP.

"Dengan mengambil data melalui Mars Reconnaissance Orbiter, para ilmuwan menemukan karbon dioksida purba yang terperangkap dalam es," tulis sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science.

"Hasil ini menambah bukti kalau dulu planet Mars memiliki atmosfir dengan kadar karbon dioksida dan air yang tipis," ungkap studi tersebut.

"Besar massa es tersebut mencapai 12.500 kubik km, sama dengan isi danau Superior, danau terbesar di wilayah Amerika Utara," ujar pihak NASA dalam sebuah pernyataan.

"Sebelumnya kita sudah tahu kalau kadar tipis dari karbon dioksida ada di es permukaan mars, tapi penemuan ini juga menambah informasi bahwa jumlah es yang ada di sana ternyata 30 kali lebih besar dari yang diguga sebelumnya," ujar pimpinan studi ini, Roger Phillips dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado.

Bahkan menurut penelitian sebelumnya kutub-kutub planet Mars kemungkinan bukanlah satu-satunya tempat di mana air es bersembunyi di planet itu.
Dari penemuan tesebut, astronom memprediksi bahwa es juga hadir di kawah-kawah yang ada di sekitar garis katulistiwa Mars.

Temuan ini disebut-sebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap eksplorasi planet Mars di masa depan. Nantinya, es tersebut berpeluang  dapat dimanfaatkan sebagai penyambung hidup ketika manusia mulai ada yang ditugaskan di sana.

Menggunakan gambar-gambar yang diambil oleh Mars Global Surveyor dan Mars Reconnaissance Orbiter, David Shean, Planetary Geologist dari Malin Space Science Systems di San Diego, Amerika Serikat menyebutkan, tampaknya ada banyak material yang kaya akan es terkubur di dasar setidaknya 38 kawah di kawasan Sinus Sabaeus, yang ada di dekat katulistiwa Mars.
“Sangat mengherankan bahwa hal-hal seperti ini tidak disadari sebelumnya meski sudah ada ratusan ribu foto-foto resolusi tinggi yang diambil selama 15 tahun terakhir,” kata Shean, seperti diberitakan Space.

Glesier di Arktik Pengaruhi Volume Air Laut Dunia

Mencairnya glesier dan puncak es di kepulauan Arktik wilayah Kanada, ternyata berperan penting dalam naiknya permukaan air laut, jauh dari yang perkiraan, demikian menurut sebuah penelitian terbaru.

Studi tersebut menemukan bahwa antara tahun 2004 dan 2009, sekira 30 ribu pulau es di kepulauan Kanada, menyimpan 363 kubik kilometer air, yang sama dengan tiga perempat isi dari Danau Erie di Kanada. Demikian seperti yang diberitakan AFP.

Selama setengah dari periode enam tahun tersebut, rata-rata hilangnya massa es di kepulauan tersebut sebesar 29 kubik kilometer per tahun. Lalu untuk periode tiga tahun selanjutnya, rata-rata hilangnya massa es melonjak hingga 92 kubik kilometer per tahun.

Lalu selama periode enam tahun penuh, jumlah hilangnya massa ini menambah total satu milimeter naiknya permukaan air laut dunia. "Wilayah ini diperkirakan sebelumnya tidak berkontribusi dalam naiknya permukaan air laut," ujar Alex Gardner, seorang peneliti dari University of Michigan, yang juga penulis utama dalam penelitian ini.

"Kini kita sadar bahwa di luar Antartika dan Greenland, kepulauan Arktik Kanada merupakan kontributor terbesar untuk tahun 2007 sampai 2009. Wilayah ini sangat sensitif dan jika suhunya terus naik, kita akan melihat fenomena mencairnya es lagi," katanya.

99 persen dari es dunia ada di Antartika dan Greenland. Kedua wilayah tersebut meski ukurannya besar, namun hanya berkontribusi setengah dari fenomena mencairnya es ke air laut.

Sebelumnya menurut laporan NASA, Lapisan es di Greenland dan Antartika ternyata mencair dengan akselerasi yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Laju pencairan ini begitu cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. "Lapisan es yang mendominasi kenaikan permukaan laut memang tidak mengejutkan, karena mereka memang mengandung lebih banyak es ketimbang gletser pegunungan," ujar Eric Rignot, peneliti gabungan antara Jet Propulsion Laboratory NASA dengan University of California.

Tapi yang mengejutkan, ia menambahkan, meningkatnya kontribusi kenaikan air laut oleh lapisan es, kini sudah terjadi. "Bila ini terus terjadi permukaan air laut akan meninggi secara signifikan daripada yang diproyeksikan sebelumnya oleh United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change  pada 20017."

Studi ini sendiri, menggunakan dua teknik pengukuran berbeda, yakni menggunakan data dari interferometric synthetic aperture radar dan data  regional atmospheric climate model dari Utrecht University, serta data pengamatan dari satelit NASA/ Gravity Recovery and Climate Experiment (Grace) Jerman selama delapan tahun.

Ilmuwan Temukan Fosil Laba-Laba Terbesar di Dunia

Ilmuwan menemukan fosil laba-laba prasejarah terbesar dari jaman dinosaurus di tumpukan abu vulkanik kuno di Mongolia, Daratan China.

Fosil itu awet selama 165 juta tahun sehingga dengan mudah diidentifikasikan sebagai hewan betina dewasa.

Laba-laba yang diberi nama Golden Orb Weaver atau Nephila Jurassica tersebut ditemukan terkubur di dalam abu vulkanik kuno di wilayah Mongolia.

Fosil tersebut adalah jenis tertua dari laba-laba raksasa yang hidup hari ini, Nephila, yang ukurannya cukup besar untuk memangsa burung dan laba-laba. Demikian seperti yang diberitakan Fox News, Kamis (21/4/2011).
Fosil tersebut memiliki ukuran lebar tubuh 2,5 cm dan kaki sepanjang 6,3 cm, hampir mirip dengan laba-laba raksasa yang ada sekarang.

Di sisi lain, laba-laba jantan diperkirakan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.

Laba-laba merupakan hewan yang sering ditemui di daerah tropis dan subtropis.
Biasanya, laba-laba betina akan membuat tenunan jaring sutra bewarna kuning yang akan berkilau seperti emas jika terkena sinar matahari.

“Kami mendeskripsikan penemuan tersebut seabgai fosil laba-laba terbesar di dunia. Seekor betina Nephila dari zaman Jurrasic di kawasan China,” ujar Profesor Selden dari Paleontological Institute di University of Kansas.

"Laba-laba raksasa ini mungkin hidup di hutan yang berdekatan dengan danau," tutur Selden.

"Mungkin juga dulu ada gunung di dekat lokasi penemuan fosil, ini terlihat dari tumpukan abu vulkanik kuno di sekitar fosil temuan ini," tambahnya.

Ilmuwan melakukan pemeriksan mikroskopis untuk memastikan jenis laba-laba yang sudah ‘membatu’ bersama dengan fosil salamander dan krustasea air.

Selden mengatakan penemuan ini bisa membantu pemahaman kita akan evolusi laba-laba dari jaman dinosaurus hingga saat ini.

Para ilmuwan tersebut menjelaskan detil lengkap penemuan ini di jurnal online Biology Letters.

Senin, 25 April 2011

Dinosaurus Ternyata Suka Kehidupan Malam?

Berdasarkan analisis struktur mata fosil dinosaurus, ilmuwan menyatakan bahwa beberapa indera dinosaurus cukup baik pada malam hari.

Beberapa spesies dinosaurus dan reptil terbang jaman dahulu diperkirakan pergi berburu pada malam hari.

Kesimpulan ini didapat dari sebuah penelitian terbaru terhadap fosil dari struktur tulang mata sejumlah reptil dan burung purba yang dilakukan oleh Lars Schmitz dan Ryosuke Motani, peneliti dari University of California.

Seperti yang diberitakan New York Times, Rabu (20/4/2011), sebelumnya para ahli paleontolog percaya kalau dinosaurus beraktivitas hanya pada siang hari dan beristirahat pada malam hari.

Pada makhluk modern yang memiliki struktur serupa, ukuran dan proporsi dari apa yang disebut sebagai scleral ring yang memperkuat jaringan luar mata dan sekitar pupil merupakan indikator handal untuk mengetahui apakah hewan bersangkutan aktif di siang hari, malam hari, atau pada siang dan malam hari. Sebagai contoh, kecilnya ukuran diameter internal dari scleral ring milik pterosaurus Scaphognathus crassirostris berukuran sebesar burung elang (lihat lingkaran warna ungu pada gambar) dibandingkan dengan ukuran soket mata milik hewan tersebut mengindikasikan bahwa reptil terbang ini hanya bisa melihat di kondisi terang benderang.

“Namun, besarnya diameter internal dan eksternal dari scleral ring pada Velociraptor mongoliensis, dinosaurus bergigi tajam yang berukuran sebesar anjing retriever menunjukkan bahwa predator ini juga berburu di malam hari,” sebut kedua peneliti dalam laporannya.

"Mamalia besar pemakan tumbuhan aktif pada siang hari. Sementara mamalia pemangsa, seperti jenis kucing besar, kebanyakan aktif pada malam hari,"

Selain itu, meski sebagian besar reptil terbang yang dianalisa pada penelitian kali ini juga hanya aktif pada siang hari, terdapat empat spesies pterosaurus yang memiliki ciri ekologis nokturnal yang serupa dengan kelelawar modern.

“Temuan ini membantah pemahaman umum bahwa mamalia purba menyelinap tanpa terancam oleh predator yang sebelumnya diperkirakan hanya aktif pada siang hari,” sebut kedua peneliti.

Rabu, 20 April 2011

Ilmuwan Temukan Cara Jitu Selidiki Keberadaan Alien

Ilmuwan kini mengembangkan cara jitu untuk menyelidiki keberadaan alien.
Caranya adalah menyelidiki ada atau tidaknya jejak penambangan material di sabuk asteroid.
Alien diperkirakan menambang material, seperti emas, platinum, besi, dan silikon, yang terdapat dalam jumlah melimpah di asteroid.

Adalah Dr Duncan Forgan dari University of Edinburgh dan Dr Martin Elvis dari Harvard Smithsonian Center For Astrophysics di Massachusets yang mengembangkan gagasan itu.
Menurut mereka, menyelidiki jejak penambangan sangat mudah sebab aktivitas itu akan melepaskan banyak debu berkaitan dengan efek suhu lokal.

Penambangan asteroid akan menimbulkan tiga efek yang secara teori bisa dilihat dari Bumi.
Pertama, ilmuwan telah paham rasio unsur yang biasa ditemukan di pecahan sabuk asteroid. Dengan demikian, ilmuwan bisa menentukan wilayah dalam sabuk asteroid yang rasio unsurnya berbeda menggunakan spektroskopi.
Kedua, alien akan cenderung menambang sabuk asteroid besar sebab lebih banyak unsur dan mineral yang bisa diperoleh.
Ketiga, penambangan asteroid akan menghasilkan debu dalam jumlah besar yang akan mengambil panas dari bintang terdekat, menghasilkan anomali suhu yang bisa dideteksi.
Forgan dan Elvis mengklaim bahwa dengan menyelidiki penambangan material itu, kemungkinan menemukan makhluk luar angkasa akan lebih tinggi. Meski demikian, ia mengakui bahwa perubahan pada sabuk asteroid juga bisa terjadi secara alami.

Intinya, menyelidiki hal tersebut akan meningkatkan kesempatan menemukan alien. Dalam makalahnya, kedua ilmuwan menulis,

"Kami menemukan bahwa tanda penambangan asteroid bisa dijelaskan dengan fenomena alam dan dengan demikian hal itu tidak bisa mendeteksi adanya makhluk ektraterestrial secara konklusif."
Di tata surya, sabuk asteroid terdapat di antara Planet Mars dan Jupiter. Sementara itu, sabuk asteroid juga terdapat di tata surya lain, disebut Epsilon Eridani System. Di kedua sabuk asteroid itulah penambangan material oleh alien kemungkinan dilakukan... itupun bila mereka ada.

NASA Temukan Puluhan Ribu Asteroid Baru

Misi pemetaan langit menggunakan wahana antariksa Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) berhasil menemukan setidaknya 33.000 asteroid baru yang berada di wilayah antara Mars dan Yupiter serta 20 komet, dan 134 objek angkasa lainnya yang berada dekat Bumi. Seluruh hasil penemuan tersebut kini bisa diakses secara online di situs WISE. Bagi astronom amatir, data tersebut bisa diakses dengan meng-klik gallery WISE.
Pete Schultz, antariksawan dari Brown University yang tak terlibat proyek ini, mengungkapkan, "Penemuan spektakuler yang kini bisa diakses ini membuktikan bahwa kita memiliki banyak tetangga baru."
"Katalog terbaru dari batuan angkasa tersebut membantu menambah pengetahuan kita mengenai isi dari tata surya,"
Edward Wright dari UCLA yang memimpin investigasi mengatakan, "Mulai saat ini, ribuan mata akan melihat data WISE dan saya mengharapkan kejutan."
Sedangkan William Keel, astronom University of Alabama, telah menggunakan data tersebut untuk deteksi kuasar.
Teleskop angkasa WISE senilai USD320 juta tersebut diluncurkan pada bulan Desember 2009.
Pada Oktober 2010, pendingin hidrogen di wahana antariksa itu habis dan hanya bisa memperpanjang misi selama empat bulan. Mulai Februari 2011, WISE memasuki masa hibernasi.
Selama 14 bulan misi sejak peluncuran, WISE berhasil menangkap 2,5 juta gambar dari orbit polarnya. Data yang dirilis online saat ini hanya 57 persen dari yang telah diobservasi, sedangkan data lainnya akan dirilis pada 2012.
WISE juga dapat membantu para ilmuwan untuk menjelaskan ukuran serta komposisi dari batuan-batuan angkasa yang baru ditemukan tersebut.
Misi WISE dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory NASA. Misi tersebut adalah kelanjutan dari misi pemetaan langit menggunakan gelombang inframerah, Infrared Astronomical Satellite, yang diluncurkan pada tahun 1983.

Minggu, 17 April 2011

Ilmuwan Klaim Eropa Bakal Tenggelam di Bawah Afrika

Ilmuwan mengklaim Eropa akan berubah posisi ke arah bawah Afrika akibat pergeseran lempeng tektonik. Bahkan ada kemungkinan dua benua ini menjadi satu kesatuan.

Benua Eropa dan Afrika menjadi lebih dekat karena lempeng tektonik di sekitar dua benua itu sedang berubah arah. Ini digambarkan sebagai perkembangan ilmiah yang menarik.
Sejak beberapa juta tahun silam, kedua benua Afrika maupun Eropa telah bertemu dan saling menumbuk, akibat pergerakan dua lempeng tektonik Afrika dan Eurasia.
Pinggiran utara Afrika, selama ini, secara perlahan menunjam ke bawah benua Eropa. Namun, temuan teranyar dari para peneliti menunjukkan sesuatu yang berlawanan. Kini, giliran Eropa yang kemungkinan besar akan berbalik tenggelam di bawah benua Afrika.

European Geosciences Union melakukan rapat pada akhir pekan lalu. Jika kekhawatiran mereka terbukti, ini merupakan hal yang jarang terjadi, serta akan menjadi awal baru munculnya zona subduksi baru.
Di bawah Laut Mediterania, batuan padat di ujung lempeng Afrika sebenarnya telah tenggelam di bawah lempeng Eurasia di mana Eropa berada. Namun, dataran Afrika ternyata terlalu ringan untuk bisa tenggelam di bawah Eropa.
Analisis dari tim peneliti dari Utrecht mengatakan, karena benua Afrika ringan dan tidak bisa tenggelam, membuat bagian subduksi Afrika yang sebelumnya terjadi, patah dan tenggelam di perut bumi.
Ruang kosong yang timbul akibat tenggelamnya subduksi Afrika itu kemudian membuat sebagian lempeng Eurasia justru terdorong ke Selatan. Daerah-daerah itu berada di sepanjang Mediterrania, seperti Kepulauan Balearic, Korsika, Sardinia, dan Kreta.

"Afrika tidak akan tenggelam, padahal Afrika dan Eropa akan terus bertabrakan. Jadi siapa yang akan tenggelam?" kata Rinus Wortel peneliti dari University of Utrecht, diberitakan situs BBC.
Wortel juga melihat arah pergerakan lempeng Eropa kini justru menunjam ke bawah lempeng Afrika dan menciptakan zona subduksi baru. Hal ini mengingat lempeng Eurasia lebih berat dari Afrika. "Pada saatnya mungkin kami akan menyaksikan awal dari subduksi Eropa di bawah Afrika," kata Wortel .
Akibatnya, timbul kekhawatiran terhadap kemungkinan semakin seringnya terjadi gempa dan tsunami di daerah Eropa. Padahal, negara-negara Eropa hingga kini belum menyediakan banyak peralatan untuk mengantisipasi gempa atau tsunami di daerah mereka.

Kepastian terhadap terbentuknya zona subduksi Eropa akan melempangkan jalan untuk pemodelan di wilayah ini serta menghitung risiko dari aktivitas gempa dan tsunami di daerah ini.
Biasanya, gempa-gempa yang terjadi di Eropa memang lebih kecil ketimbang yang terjadi di daerah sabuk api vulkano di daerah Pasifik. Namun demikian, sejarah sempat merekam adanya gempa sebesar 8 skala Richter di Eropa.

Analisis ilmuwan dari University of Utrecht soal struktur geologi kompleks di Laut Mediterania menunjukkan bahwa gempa Jepang baru-baru ini juga berperan dalam perubahan zona subduksi di  kawasan Eropa dan Afrika.

Semut Merah Bersosialisasi Layaknya Jejaring Facebook

Sekelompok peneliti dari Stanford University berkesimpulan bahwa cara semut bersosialisasi dengan rekan-rekannya mirip dengan orang bersosialisasi melalui jejaring sosial Facebook.
Saat tim yang dikepalai oleh Noa Pinter-Wollman meneliti interaksi antara semut merah (Pogonomyrmex barbatus) yang berada di daerah gurun Amerika Barat Daya, para peneliti menemukan cara berkomunikasi yang unik antara sesama mereka.

Seperti dilansir dari situs Physorg, setiap semut menggunakan sistem sinyal kimiawi untuk berkomunikasi. Molekul-molekul kimia itu dikeluarkan melalui exoskeleton (bagian tubuh keras terluar) mereka dan ditransfer kepada semut-semut sesama koloni, ketika antena mereka menyentuh atau menggosok satu sama lain.
Dengan cara ini, mereka bisa saling berkomunikasi untuk mengetahui dari mana semut-semut itu sebelum bertemu, apa ada sumber makanan yang mereka temukan, atau bahkan adakah predator yang mengancam wilayah itu.

Peneliti membuat sebuah kamar kecil untuk mengukur berapa kali pertukaran informasi mereka lakukan, setiap kali bertemu, atau bagaimana semut yang berlainan koloni berkomunikasi.
Dari rekaman video tersebut, tim riset menggunakan program komputer yang dapat mengenali semut-semut yang diobservasi dan mampu menghitung berapa kali mereka berinteraksi satu sama lain. Penelitian ini merekam sebanyak 4.628 interaksi semut.

Rata-rata, setiap semut melakukan sekitar 40 kali interaksi. Bahkan, sekitar 10 persen dari semut yang diteliti bisa melakukan lebih dari 100 kali kontak dengan semut lain. Riset tersebut juga mengamati alasan-alasan yang membuat semut ini memiliki kecenderungan lebih, dalam kerja sama dan sosialisasi dengan semut lain.
Para peneliti juga membandingkan jenis hubungan sosial yang mereka jalin dengan sistem pertemanan di jejaring sosial Facebook. Ternyata memang terdapat beberapa persamaan. Hasil riset yang telah muncul di Journal of the Royal Society Interface itu, menemukan bahwa tidak semua semut tersebut aktif dalam hubungan sosial mereka.

Seperti halnya karakter-karakter orang di Facebook, ternyata ada beberapa semut yang hanya berkomunikasi dengan beberapa kenalan di jaringan yang lebih kecil. Namun, ada pula semut yang memiliki jaringan yang lebih besar dan berkomunikasi dengan lingkaran yang lebih besar.

Ilmuwan Klaim Akar Bahasa Manusia Berasal Dari Afrika

Para ilmuwan mengklaim bahwa seluruh cabang bahasa berasal dari sumber yang sama, yaitu benua Afrika.

Kesimpulan itu diambil setelah sejumlah ilmuwan dari University of Auckland dan Oxford University menganalisa ratusan bahasa dan menemukan bahwa akar bahasa yang digunakan seluruh penduduk bumi berasal dari Benua Hitam sekira 150 ribu tahun lalu. Demikian yang diberitakan Telegraph.

"Menurut kami, bahasa merupakan sebuah loncatan besar dalam peradaban, dan akhirnya mendorong koordinasi serta kooperasi yang memungkinkan manusia bertumbuh kembang," jelas salah satu peneliti, Dr Quentin Atkinson.

"Bisa jadi, bahasa juga mendorong terjadinya kompetisi yang membuat kita merasa terpacu," tambah Dr Atkinson yang telah meneliti sekira 504 bahasa untuk mengetahui berapa banyak fonem (karakter bunyi) yang terkandung. Secara mengejutkan, Atkinson menemukan korelasi langsung antara usia peradaban serta jumlah fonem dalam sebuah bahasa. Afrika diketahui memiliki lebih dari 100 fonem dalam berbagai bahasa Afrika. Bahasa Hawaii hanya memiliki 13 fonem, sementara Inggris, Prancis dan Jerman masing-masing memiliki 45 fonem.

Analisis menggunakan World Atlas of Language Structure sebagai sumber utama, mendasarkan pada teori bahwa peradaban yang lebih tua telah mengambil lebih beragam bahasa dengan bertambahnya usia mereka dari gen ke bahasa. Hal itu lalu digunakan untuk mengekstrapolasi kembali asal-usul bahasa ke Afrika dan menunjuk waktu sekitar 150 ribu tahun lalu, ketika dimulainya seni gua.

Pada masa inilah manusia mulai membuat ukiran di dinding-dinding gua, yang notabene merupakan bentuk komunikasi pertama.

Dr Atkinson pun memperkirakan bahwa sejumlah orang mulai meninggalkan Afrika pada 80 ribu tahun lalu sambil membawa diversifikasi bahasa.

Laporan itu menyimpulkan secara umum bahwa wilayah di dunia merupakan koloni paling baru, menggabungkan lebih sedikit fonem ke dalam bahasa setempat, sedangkan daerah merupakan koloni lama selama ribuan tahun dan masih menggunakan fonem paling banyak.

"Bukti ini menunjukkan bahwa bahasa berasal dari satu sumber, bukannya muncul secara sendirinya dari beberapa wilayah. Saya cukup terkejut mendapati fakta ini," pungkasnya.

Hasil riset ini sendiri telah dipublikasikan di Journal Science.

Asteroid Berkekuatan 15 Kali Bom Atom Kian Mendekat ke Bumi

Sejumlah astronom amatir dari seluruh dunia telah menemukan sebuah asteroid yang diperkirakan akan melintas di dekat Bumi pada Senin malam, 18 April 2011 mendatang.
Saat ini, asteroid 2011 GP59 itu berada pada jarak 10 kali dibanding jarak Bumi dengan bulan.

Penampakan asteroid yang berkelap-kelip membuat para pengamat tertarik.

Ternyata, diketahui bahwa asteroid berbentuk seperti cerutu ini berputar dari ujung ke ujung secara cepat.

“Umumnya, jika ada asteroid berlaku demikian, artinya objek itu berbentuk memanjang dan kita melihat sisi panjangnya dan kemudian sisi sempitnya saat ia berotasi,” kata Don Yeomans, Manager of Near-Earth Object Program Office, NASA, seperti diberitakan News.com.

GP59, kata Yeomans, diperkirakan memiliki ukuran panjang 50 meter dan periode rotasinya mencapai sekitar 7,5 menit. “Ini membuat tingkat kecerahan objek itu berubah setiap sekitar 4 menit,” ucapnya.
Namun demikian, Yeoman yang lembaganya bertugas melacak karakteristik asteroid, dan komet melindungi umat manusia dari hantaman benda-benda tersebut menyebutkan, kita tidak perlu khawatir.

“Meski baru ditemukan, lokasi orbital dari asteroid 2011 GP59 bisa ditentukan,” ucapnya.

“Tidak ada peluang batu ruang angkasa ini memasuki atmosfir Bumi saat ia melintas dalam waktu dekat, ataupun di masa depan,” ucapnya.

Ini, kata Yeoiman, tentunya merupakan kabar gembira. Karena, meski ukuran 50 meter terdengar kecil, akan tetapi ukuran itu 5 kali lebih besar dibandingkan dengan asteroid yang meledak 15 kilometer di atas Indonesia, pada Oktober 2009 lalu.

Sebagai informasi, saat asteroid itu meledak, ia mengeluarkan energi sama dengan kekuatan ledakan 3 bom atom. Artinya, asteroid yang ditemukan kali ini memiliki kekuatan ledak 15 kali bom atom jika tiba di atmosfir Bumi.

Untungnya, jika asteroid yang meledak di atas Indonesia luput dari pantauan astronom, setidaknya asteroid yang akan mendekat kali ini sudah diketahui keberadaannya

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes