Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

Menuju Rumah Tangga Sakinah, Mawaddah, Warohmah


Untuk SahabatQ Yang Dulu Pernah diHati



Pernikahan artinya menjalin kecintaan dan kerjasama, mendahulukan kepentingan orang lain dan pengorbanan, ketentraman dan mawaddah, hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyari’atkan.
Pernikahan artinya rumah yang tiangnya adalah Adam dan Hawwa, dan dari keduanya terbentuk keluarga-keluarga dan keturunan-keturunan, lalu rumah-rumah, lalu komunitas, lalu muncul berbagai bangsa dan negara. Dalam hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah.” (al-Furqan:54).

Mushaharah yaitu hubungan kekeluargaan yang disebabkan oleh ikatan perkawinan, seperti menantu, mertua, ipar, dan sebagainya.
Pernikahan adalah benteng yang dapat menekan kejalangan nafsu seksual seseorang, mendorong keinginan syahwatnya, menjaga kemaluan dan kehormatannya serta menghalanginya dari keterjerumusan ke dalam lubang-lubang maksiat dan sarang-sarang perbuatan keji.
Kita melihat bagaimana al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami-istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan.
Sesungguhnya wanita adalah ran ting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu, akar selalu membutuhkan ranting dan ran ting selalu membutuhkan akar.” Mengenai hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (al-A’raf:189).
Yang dimaksud dengan diri yang satu adalah Adam dan yang dimaksud istrinya adalah Hawwa. Karena itu, pernikahan menurut Islam bukan hanya sekedar menjaga keutuhan jenis manusia saja, tetapi lebih dari itu adalah menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.”(an-Nisa`:3)
Di bawah naungan ajaran Islam, kedua pasangan suami istri menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.
Di antara keagungan al-Qur’an dan kesempurnaannya, kita melihat semua makna tersebut, baik yang sempat terhitung atau pun tidak, tercermin pada satu ayat al-Qur’an, yaitu:

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah:187)
Makna Sakinah, Mawaddah dan Rahmah
Al-Qur’an telah menggambarkan hubungan insting dan perasaan di antara kedua pasangan suami-istri sebagai salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah dan nikmat yang tidak terhingga dari-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum:21)
Kecenderungan dan rasa tentram suami kepada istri dan kelengketan istri dengan suaminya merupakan hal yang bersifat fitrah dan sesuai dengan instingnya. Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Isteri ibarat tempat suami bernaung, setelah perjuangannya seharian demi mendapatkan sesuap nasi, dan mencari penghiburnya setelah dihinggapi rasa letih dan penat. Dan, pada putaran akhirnya, semua keletihannya itu ditumpahkan ke tempat bernaung ini. Ya, kepada sang istri yang harus menerimanya dengan penuh rasa suka, wajah yang ceria dan senyum. Ketika itulah, sang suami mendapatkan darinya telinga yang mendengar dengan baik, hati yang welas asih dan tutur kata yang lembut.
Profil wanita shalihah ditegaskan melalui tujuan ia diciptakan, yaitu menjadi ketentraman bagi laki-laki dengan semua makna yang tercakup dalam kata “Ketentraman (sakinah) itu. Dan, agar suatu ketentraman dikatakan layak, maka ia (wanita) harus memiliki beberapa kriteria, di antara yang terpenting; Pemiliknya merasa suka bila melihat padanya; Mampu menjaga keluarga dan hartanya; Tidak membiarkan orang yang menentang nya tinggal bersamanya.
Terkait dengan surat ar-Rûm, ayat 21 di atas, ada beberapa renungan:
Renungan Pertama. Abu al-Hasan al-Mawardy berkata mengenai makna, “Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (ar-Rum:21). Di dalam ayat ini terdapat empat pendapat:
Pertama, bahwa arti Mawaddah (rasa kasih) adalah al-Mahabbah (kecintaan) sedangkan arti Rahmah (rasa sayang) adalah asy-Syafaqah (rasa kasihan).
  Ke-dua, bahwa arti Mawaddah adalah al-Jimâ’ (hubungan badan) dan Rahmah adalah al-Walad (anak).
Ke-tiga, bahwa arti Mawaddah adalah mencintai orang besar (yang lebih tua) dan Rahmah adalah welas asih terhadap anak kecil (yang lebih muda).
 Ke-empat, bahwa arti keduanya adalah saling berkasih sayang di antara pasangan suami-isteri. (al-Mawardy: an-Nukat Wa al-’Uyûn)
Ibn Katsir berkata, “Di antara tanda kebesaran-Nya yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, Dia menciptakan wanita yang menjadi pasangan kamu berasal dari jenis kamu sendiri sehingga kamu cenderung dan tenteram kepadanya. Andaikata Dia menjadikan semua Bani Adam (manusia) itu laki-laki dan menjadikan wanita dari jenis lain selain mereka, seperti bila berasal dari bangsa jin atau hewan, maka tentu tidak akan terjadi kesatuan hati di antara mereka dan pasangan (istri) mereka, bahkan sebaliknya membuat lari, bila pasangan tersebut berasal dari lain jenis. Kemudian, di antara kesempurnaan rahmat-Nya kepada Bani Adam, Dia menjadikan pasangan mereka dari jenis mereka sendiri dan menjadikan di antara sesama mereka rasa kasih (mawaddah), yakni cinta dan rasa sayang (rahmah), rasa kasihan. Sebab, bisa jadi seorang laki-laki mengikat wanita karena rasa cinta atau kasih terhadapnya hingga mendapat kan keturunan darinya atau ia (si wanita) butuh kepadanya dalam hal nafkah atau agar terjadi kedekatan hati di antara keduanya, dan lain sebagainya” (Tafsir Ibn Katsir)
Renungan ke Dua. Mari kita renungi sejenak firman-Nya, “dari jenismu sendiri.” Istri adalah manusia yang mulia di mana terjadi persamaan jenis antara dirinya dan suami, sedangkan laki-laki memiliki tingkatan Qiwâmah (kepempimpinan) atas wanita (baca: al-Baqarah:228).
Kepemimpinan suami bukan artinya bertindak otoriter dengan membungkam pendapat orang lain (istri,red). Kepemimpinannya itu ibarat rambu lalu lintas yang mengatur perjalanan tetapi tidak untuk memberhentikannya. Karena itu, kepemimpinan laki-laki tidak berarti menghilangkan peran wanita dalam berpendapat dan bantuannya di dalam membina keluarga.
Renungan ke Tiga. Rasa aman, ketenteraman dan kemantapan dapat membawa keselamatan bagi anak-anak dari setiap hal yang mengancam eksistensi mereka dan membuat mereka menyimpang serta jauh dari jalan yang lurus, sebab mereka tumbuh di dalam suatu ‘lembaga’ yang bersih, tidak terdapat kecurangan maupun campur tangan, di dalamnya telah jelas hak-hak dan arah kehidupan, masing-masing individu melakukan kewajiban nya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”
Kepemimpinan sudah ditentukan dan masing-masing individu sudah rela terhadap yang lainnya dengan tidak melakukan hal yang melampaui batas. Inilah makna firman-Nya dalam surat an-Nisâ`, ayat 34.
Renungan ke Empat. Masing-masing pasangan suami-isteri harus saling menghormati pendapat yang lainnya. Harus ada diskusi yang didasari oleh rasa kasih sayang tetapi sebaiknya tidak terlalu panjang dan sampai pada taraf berdebat. Sebaiknya pula salah satu mengalah terhadap pendapat yang lain apalagi bila tampak kekuatan salah satu pendapat, sebab diskusi obyektif yang diasah dengan tetesan embun rasa kasih dan cinta akan mengalahkan semua bencana demi menjaga kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Renungan ke Lima. Rasa kasih dan sayang yang tertanam sebagai fitrah Allah subhanahu wata’ala di antara pasangan suami-isteri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya sebab secara alamiah, jiwa mencintai orang yang memperlaku kanya dengan lembut dan selalu berbuat kebaikan untuknya. Nah, apalagi bila orang itu adalah suami atau isteri yang di antara keduanya terdapat rasa kasih dari Allah subhanahu wata’ala, tentu rasa kasih itu akan semakin bertambah dan menguat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah wanita shalihah.” 
Renungan ke Enam. Kesan terbaik yang didapat dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dalam hubungan suami-isteri baik semasa hidup maupun setelah mati. Hal ini dapat terlihat dari ucapan istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tercinta, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang begitu cemburu terhadap Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri pertama beliau padahal ia sudah wafat dan belum pernah dilihatnya. Hal itu semata karena beliau sering mengingat kebaikan dan jasanya.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan rumah tangga kaum Muslimin rumah tangga yang selalu diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan hal ini bisa terealisasi, manakala kaum Muslimin kembali kepada ajaran Rasul mereka dan mencontoh kehidupan rumah tangga beliau.

Sumber: Tsulâtsiyyah al-Hayâh az-Zawjiyyah: as-Sakan, al-Mawaddah, ar-Rahmah karya Dr.Zaid bin Muhammad ar-Rummany. (Abu Hafshah)

Rabu, 29 Desember 2010

Satu Perbuatan yang Membuat Seseorang Tak Jadi Masuk Surga

Tiga orang yang do’anya itu tidak tertolak” Pemimpin yang adil, orang yang berpusa hingga berbuka, dan orang yang didzalimi

Alkisah, di masa Nabi Musa AS hiduplah seorang nelayan miskin dari kalangan Bani Israil. Suatu hari, ia pergi menangkap ikan di laut. Dia mendapatkan ikan yang sangat besar dan membuatnya gembira. Dan dia pergi ke pasar untuk menjual ikan agar bisa digunakan untuk membeli keperluan keluarganya. Di tengah jalan, ada preman merampas ikannya. Si nelayan melawan. Tidak sabar menghadapi nelayan, preman memukulkan sebatang kayu ke kepala nelayan. Dan sang preman sukses membawa kabur ikanya.

Sang nelayan akhirnya meneteskan air mata dan berdo'a kepada Allah SWT, "Ya Allah, Engkau menjadikanku sebagai orang yang lemah, dan menjadikan dia sebagai orang yang kuat, Ya Allah ambilkan milik dan hak saya segera. Dia telah mendzalimi saya, saya tidak sabar menunggu hingga hari akhirat".
Di waktu yang sama, sang preman sedang dalam perjalanan pulang. Sesampai di rumah, dia meminta istrinya menggoreng ikan hasil rampokannya. "Gorenglah ikan besar ini," ujarnya pada sang istri. Usai digoreng, ikan tersebut diletakkan di piring kemudian dihidangkan di atas meja yang berada di hadapan si preman. Sebelum ikan siap untuk dimakan, saat itulah terjadi peristiwa aneh. Ikan tersebut membuka matanya dan mematuk jari preman. Patukan ikan tersebut sangat menyakitkan dan mengakibatkan si preman pingsan. Beberapa saat kemudian preman itu sadar lalu pergi menemui seorang tabib. Tangannya masih sangat terasa perih dan sakit. "Satu-satunya jalan untuk mengobati lukamu ini dengan cara mengamputasi jari tangan yang luka agar luka tidak menjalar ke seluruh tangan, “ ujar sang tabib.

Si preman akhirnya diamputasi. Namun, rasa sakit itu berpindah lagi ke telapak tangan dan lengan. Tabib berkata padanya, “Sebaiknya tanganmu diamputasi hingga sikut, sebelum kebagian yang lain. Tangan preman tersebut kembali diamputasi. Tapi rasa sakit berpindah ke bagian bahunya, demikian seterusnya.  Preman itu berjalan tak tentu arah dalam keadaan bingung. Dia memohon kepada Allah agar menyembuhkan penyakitnya. Dia melihat sebuah pohon dan pergi menghampirinya. Di sana, dia tertidur.
Di dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berkata, “kasihan sekali kamu. Berapa banyak lagi anggota tubuhmu yang harus diamputasi. Pergilah menemui nelayan yang pernah engkau dzalimi. Mintalah ridha darinya.”

Preman tersebut tersadar dari tidurnya. Dia merenung sejenak. Akhirnya dia menyadari bahwa semua penyakit yang dialaminya selama ini berawal dari nelayan yang didzaliminya. Sesampainya di hadapan sang nelayan, dia memohon agar nelayan tersebut mau memaafkan dan meridhainya. Dia memberikan sejumlah uang sampai ganti ikan yang telah dirampasnya. Dia bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Sang nelayan memaafkannya. Dia tinggal dan bermalam di sana hingga tak merasakan sedikit pun rasa sakit dan dapat menikmati tidurnya kembali. Begitulah kisahnya sebagaimana dalam buku “Kisah Orang-Orang dzalim” terbitan Republika.


Tidak Pada Tempatnya

Istilah dzalim sering kita dengar. Tapi apa sebenarnya makna kata dzalim itu sendiri? Beberapa ahli bahasa mendeskripsikan dzalim sebagai “wadl’u syai’a fi ghairi mahallihi” (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya).

Perbuatan dzalim adalah perbuatan yang sangat dicela Islam. Dalam al-Quran disebutkan istilah baghyu yang juga sama maknanya dengan zhulm, yang artinya: melanggar atau merampas hak orang lain.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Dzar ra bahwa Nabi bersabda meriwayatkan firman Allah, “Wahai hambaku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diriKu maka Aku menjadikannya di antara klian sebagai perbuatan yang haram maka janganlah saling mendzalimi”. (HR.Muslim)

Dzalim merupakan perbuatan yang tidak disenangi oleh Allah. Ini tegaskan dalam al-Qur’an yang berbunyi “..dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim.” (QS 3: 57 dan lihat juga ayat QS 42:40)
Di antara dosa besar yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala terhadap para hambaNya dan memberikan sanksi atasnya baik di dunia dan akherat adalah perbuatan dzalim. Allah berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42).

Adapun bentuk kedzaliman itu ada 3 macam sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Pertama, kedzaliman yang tidak diampunkan Allah. Kedua, kedzaliman yang dapat diampunkan Allah, dan ketiga, kedzaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah ta’ala.

Adapun kedzaliman yang tidak diampunkan Allah ta’ala adalah syirik, sesuai firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang amat besar!”, adapun kedzaliman yang dapat diampunkan Allah adalah kedzaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Allah, Tuhannya. Dan kedzaliman yang tidak dibiarkan Allah adalah kedzaliman hamba-hamba-Nya di antara sesama mereka, karena pasti dituntut kelak oleh mereka yang didzalimi.” (HR. al-Bazaar & ath-Thayaalisy)
Kedzaliman yang pertama tidak akan mendapat ampunan dari Allah ta’ala jika pelakunya meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah. “Dan Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang lalim.” QS. Hud: 18

Kedzaliman kedua tergantung pada kehendak Allah. Jika Allah menghendaki maka Dia akan menyiksanya dengan dosa-dosanya dan jika Allah menghendaki maka Dia mengampuniNya dan menutupi perbuatan tersebut.

Adapun orang kafir dan munafiq maka pada saksi mengatakan, "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang lalim.” (QS. Hud: 18.)

Maka wajib bagi orang yang beriman untuk menjaga dirinya agar terlepas dari tanggungan hak orang lain dan meminta agar dihalalkan sebelum datangnya hari kiamat, sebab pada hari itu tidak ada yang bermanfaat baik dirham atau dinar, akan tetapi yang akan bermanfaat adalah balasan kebaikan dan keburukan.
Adapun kedzaliman ketiga, yaitu kedzaliman antara seorang hamba dengan yang lain. Bentuk kedzaliman ini banyak sekali. Di antaranya antara lain membunuh orang lain, memukul dan mencelanya. Juga termasuk di antaranya, menuduh seseorang dengan perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan, menahan diri membayar hutang padahal mampu dan masih banyak yang lainnya.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah memerintahkan agar kita segera minta maaf kepada orang yang kita dzalimi, selagi masih hidup demi untuk memperingan siksa di akhirat nanti. Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi SAW bersabda: “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari, Muslim)

Dalam pergaulan dan interaksi dengan orang lain, Islam telah memerintahkan kepada kita agar menjaga perkataan dan sikap kita agar tidak menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, apalagi sampai berbuat dzalim. Setiap yang apa yang kita lakukan pasti akan mendapat balasannya.

Dampak Perbuatan Dzalim

Sebuah perbuatan yang menimbulkan kedzaliman memiliki dampak yang sangat negatif. Ibnu Taimiyah berkata, “Manusia tidak pernah berselisih pendapat bahwa akibat kedzaliman itu sangat fatal, dan akibat keadilan itu sangat mulia, dan diriwayatkan bahwa Allah akan menolong suatu negara yang adil sekalipun dia negara kafir, dan Dia tidak akan menolong negara yang  dzalim sekalipun dia muslim”. (Majmu’ fatawa: 28/63)

Doa’ orang yang did dzalimi sangat mustajab, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Abi Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Tiga orang yang do’anya itu tidak tertolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat dia berbuka, dan do’a orang yang didzalimi dibawa di atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit dan dia berkata; Wahai Tuhanku Azza Wa Jalla: Demi Zatku yang Maha Mulia sungguh aku akan menolongmu walau setelah beberapa saat.” (HR. Ahmad)

Kezdaliman adalah sebesar-besar perbuatan maksiat dan perbuatan tersebut dapat merusak kalbu kita. Rasulullah bersabda, “Jauhilah kedzaliman itu, karena kedzaliman itu dapat merusak hati (nurani) kalian.” (Mizan al-Hikmah V/597). Di hadist lain Rasulullah  juga bersabda: “Takutlah kamu dari berbuat d dzalim! Karena sesungguhnya ked dzaliman itu adalah kegelapan di Hari Qiyamat!” (Mizan al-Hikmah V/599)
Akibat dari perbuatan dzalim, juga bisa menyebabkan seseorang yang seharusnya masuk surga berubah masuk neraka. Orang yang seperti ini di dalam hadits disebut sebagai orang yang bangkrut. Dari Abi Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda: “Tahukah kamu siapa yang bangkrut itu?“, mereka (sahabat) berkata: “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya kesenangan dan uang“ (kemudian) Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang (pada hari kiamat) membawa pahala sholat, zakat, puasa dan haji. Sedang (ia) pun datang (dengan membawa dosa) karena memaki-maki orang, memukul orang, dan mengambil harta benda orang (hak–hak orang), maka kebaikan-kebaikan orang (yang men dzalimi) itu diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang ter dzalimi. Maka tatkala kebaikan orang (yang mendzalimi) itu habis, sedang hutang (kedzalimannya) belum terbayarkan, maka diambilkan kajahatan-kejahatan dari mereka (yang terdzalimi) untuk di berikan kepadanya (yang mendzalimi), kemudian ia (yang mendzalimi) dilemparkan ke dalam neraka (HR. Muslim)

Sebagaimanusia, kadang kita tak terasa bahwa yang kita lakukan mendzalimi orang lain. Kepada teman, tetangga, saudara bahkan pada istri dan anak-anak kita sendiri. Marilah kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan dzalim, bahkan termasuk dzalim pada diri sendiri.  [hidayatullah.com]

Ada Peluluh Kesombongan di Balik Tetesan Bening Air Mata

Oleh: Umi Nurtri Ratih (Guru SMPN Bojongsari, Purbalingga) ****

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS Al Israa[17]:109)

Seringkali, ketika sesuatu terjadi di luar rencana, harapan dan keinginan lewat tak tertangkap barulah manusia mengingat Dia. Sadar dirinya tak mampu berbuat apa-apa, jika Allah sudah berkehendak. Saat itu biasanya manusia menangis atau berkeinginan untuk menangis. Namun, tak lama bila ada harapan dan keinginan yang terwujud, maka tertawalah ia dan lupa lagi kepada Sang Pemberi Harapan.
Amat biasa, manusia menangis, melelehkan airmatanya, ketika merasa hancur, tujuannya gagal, harapannya kabur, dan cita-citanya berantakan. Atau, apabila yang telah diupayakannya mengalami kebuntuan.

Menangis adalah cara Allah menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaranNya. Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manusia agar senantiasa mengingatNya. Titik-titik air bening dari kelopak mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari gumpalan awan untuk membasahi bumi dari kekeringan hingga tumbuh sayur segar dan buah yang ranum. Seperti itulah barangkali tangis manusia akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah bongkah keangkuhan dalam dada, hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari tangis manusia akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari meremehkan orang lain dan semakin menjernihkan kacamata untuk lebih bisa melihat kemahabesaran dan kekuasaan Allah. Titik titik bening itu akan membersihkan debu-debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata yang menjadikan seringkali lupa bersyukur atas nikmat pemberianNya.

Semestinya pula, melelehkan air mata membuat hati tetap basah oleh ketawadluan, qana’ah, dan juga cinta terhadap sesama. Air mata menjadi penyadar bahwa apa pun yang kita upayakan semua tergantung padaNya. Tak ada yang patut disombongkan pada diri di hadapan sesama apalagi di hadapan Dia. Air mata akan mengantarkan kita pada kekhusyukan.

Bersyukurlah bila masih bias meneteskan air mata. Namun, air mata menjadi tak ada artinya jika setelah tetes terakhir, tak ada perubahan apapun dalam langkah kita. Tak akan ada hikmahnya, bila kesombongan masih menjadi baju utama kita. Wallahu a’lam bish-shawab. (Republika.co.id)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes