Sabtu, 28 Mei 2011

Nyamuk Penyebar Malaria Berevolusi

Penyakit malaria masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan kasusnya semakin meluas di masyarakat. Hal ini tecermin dari menurunnya persentase rumah tangga yang bebas dari penyakit malaria.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, 91,8 persen rumah tangga bebas malaria. Namun, berdasarkan Riskesdas 2010, rumah tangga bebas malaria turun menjadi 71,6 persen yang artinya malaria semakin meluas. Rumah tangga bebas malaria tertinggi menurut Riskesdas 2010 di Provinsi Yogyakarta (85,5 persen) dan terendah di Provinsi Papua Barat (22,8 persen).
”Yang banyak meningkat ialah pada rumah tangga dengan satu penderita malaria. Terjadi peningkatan sekitar 12 persen,” ujar Didik Budijanto, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya, pekan lalu, dalam acara Simposium Nasional VI Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan bertajuk ”Merajut Karya Ilmiah, Peduli Kesehatan Bangsa”.

Dia mengatakan, dengan tingkat analisis rumah tangga, bukan pada individu, dapat diketahui kesehatan sebuah rumah tangga yang sangat penting sebagai basis kesehatan masyarakat secara umum. ”Keberadaan penyakit, seperti malaria, menunjukkan rumah tangga dan lingkungan yang belum sesuai harapan,” ujarnya.
Tidak hanya malaria, terjadi juga penurunan rumah tangga bebas tuberkulosis paru dari 96,6 persen (tahun 2007) menjadi 90,4 persen pada 2011. Status malaria dan tuberkulosis termasuk penyakit yang menjadi indikator status kesehatan rumah tangga di Indonesia. Dalam mengatasi penyakit, termasuk malaria, tindakan pencegahan menjadi sangat penting.

Hal senada terungkap dalam penelitian yang dilakukan Made Asri Budisuari dan Astridya Paramita dari Puslitbang Sistem Kebijakan kesehatan, Badan Litbangkes, mengenai ”Analisis Hubungan Penyakit Malaria dan Pencegahan Malaria di Indonesia”. Penelitian itu merupakan analisis lanjut berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 guna mendapatkan gambaran perilaku pencegahan malaria yang meliputi karakteristik responden, keadaan wilayah, dan status sosial ekonomi. Salah satu sebab suburnya penyakit malaria di Indonesia ialah iklim dan lingkungan yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles.

Dalam studi itu disimpulkan, penderita malaria paling banyak berusia 5-14 tahun, laki-laki, tinggal di pedesaan, berpendidikan tamat SD/MI, tidak bekerja atau bersekolah, dan memiliki tingkat pengeluaran per kapita rendah. Selain itu diperoleh fakta, mereka yang memiliki perilaku pencegahan baik ternyata lebih sedikit yang terkena malaria dibandingkan dengan mereka yang kurang baik perilaku pencegahannya.
Para peneliti tersebut menyarankan pengelolaan lingkungan yang sehat untuk mencegah perkembangbiakan vektor nyamuk. Selain itu, diperlukan pula pelayanan kesehatan, antara lain rapid diagnostic test (RDT) dan perilaku pencegahan, seperti pemakaian kelambu berinsektisida, penyemprotan, dan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk memberantas malaria perlu dilakukan kerja sama lintas sektor.

Dua galur nyamuk penyebar penyakit malaria di Afrika berevolusi secara genetik hingga menjadi spesies baru yang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu diketahui dari penelitian internasional yang dipimpin ilmuwan dari Imperial College London (ICL) tentang galur M dan galur S pada nyamuk Anopheles gambiae yang ada di Sub-Sahara Afrika.

Secara fisik, galur M dan S itu identik. Namun, secara genetik, keduanya berbeda sehingga jenis nyamuknya pun seharusnya dibedakan. Perbedaan genetik itu membuat upaya mengontrol populasi nyamukAnopheles gambiae dipastikan hanya efektif untuk satu galur dan tidak efektif untuk galur yang lain. Karena itu, jika akan dibuat insektisida untuk membasmi nyamuk tersebut, insektisidanya harus efektif untuk kedua jenis galur.
Pemimpin peneliti, George Christophides dari Divisi Sel dan Biologi Molekuler pada ICL, seperti diberitakan ScienceDaily, menyebutkan, malaria adalah penyakit mematikan. Satu dari lima kematian yang terjadi di Afrika disebabkan oleh malaria. ”Cara yang tepat untuk membasmi malaria adalah dengan mengontrol nyamuknya sebagai pembawa penyakit,” katanya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 200 juta orang terserang malaria di seluruh dunia, sebagian besar ada di Afrika. Malaria membunuh satu anak setiap 30 detik.
Peneliti lain dari ICL, Mara Lawniczak, mengatakan, studi menunjukkan, evolusi nyamuk penyebar malaria jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Untuk itu, pemantauan genetik tersembunyi pada nyamuk perlu dilakukan jika ingin sukses dalam mengatasi malaria karena strategi menghadapi satu galur nyamuk berbeda dengan strategi untuk menghadapi galur yang lain.

Ilmuwan Ciptakan Robot Serangga Penjelajah Daerah Bencana (VIDEO)

Seorang peneliti robotika asal Swiss telah menciptakan sebuah robot yang bisa terbang dan hinggap di dinding atau pohon.

Menurut peneliti, tujuan robot tersebut diciptakan agar dapat melakukan perjalanan di atas medan berat seperti daerah bencana.

Apalagi, robot dilengkapi dengan sensor dan kamera kecil yang berbeda, mereka bisa digunakan di daerah bencana untuk mengirimkan informasi penting kembali ke pusat komando untuk menyelamatkan korban.

Kemampuan robot yang mirip serangga ini, mampu menempel pada hampir semua jenis permukaan, bahkan dinding beton.

"Kami tidak membabi buta meniru alam, tetapi menggunakan prinsip yang sama untuk kemungkinan memperbaiki kesulitan itu," ujar Mirko Kovac, ilmuwan yang membuat robot tersebut dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL).

"Perilaku seperti melompat, terbang dan bertengger memerlukan kontrol kompleks atas gerakan tanpa membutuhkan daya komputasi yang tinggi," tambahnya, seperti yang diberitakan TG Daily. Kemampuan untuk bertengger, mampu menghemat energi yang berharga untuk memungkinkan robot untuk beristirahat, persis seperti yang dilakukan serangga atau burung.
Mekanisme bertengger sebelumnya membutuhkan manuver menukik rumit untuk mengurangi momentum dan mendarat di kaki.
Nah, EPFL menghindari masalah ini dengan menggunakan dua lengan pegas dilengkapi dengan pin yang menggali ke permukaan.

Jumat, 27 Mei 2011

Ilmuwan Temukan Petunjuk Terbaru Untuk Temukan Alien di Mars

Ilmuwan menemukan banyak deposit karbon di bawah permukaan Mars. Ini bisa jadi bukti adanya kehidupan ratusan juta tahun lalu di planet merah itu.

Sebelumnya, ilmuwan sempat menemukan sejumlah kecil mineral di Mars.
Namun, limpahan materi ini menunjukkan adanya gas rumah kaca yang menciptakan kemungkinan permukaan Mars basah dan lebih hangat ratusan juta tahun lalu.

Ilmuwan menggunakan data satelit untuk menganalisis geologi wilayah Mars yang dikenal dengan nama Kawah Leighton di dekat gunung berapi Mars yang sangat luas Syrtis Major, dengan lebar 750 mil.
Tim percaya bahwa sedimen kuno yang terkubur dalam materi vulkanik ini keluar saat terjadi letusan Syrtis Major.

Mineral tersebut kemungkinan berasal dari air yang kaya karbonat di mana berinteraksi dengan batuan. Ini menunjukkan bahwa Mars zaman dahulu lebih panas dari perkiraan sebelumnya.
Dr Joseph Michalski dari Planetary Science Institute, Arizona, dan Dr Paul Niles dari Johnson Space Centre NASA, Houston, mengatakan bahwa permukaan Mars saat ini dingin, kering, penuh asam dan tidak dapat dihuni.

Namun, kondisi ini mungkin berbeda pada waktu lampau. “Salah satu petunjuk adanya kondisi layak huni adalah keberadaan atmosfer yang mengandung metana. Ini mungkin terbentuk apabila muncul proses hidrotermal dalam kerak bumi terkait kandungan karbon dioksida.”

Sebelumnya, deteksi mineral karbonat dapat dikaitkan dengan lingkungan yang kaya karbon dioksida. Bagian tanah yang padat karbon dioksida juga berarti terjadinya efek rumah kaca di Mars.
Kondisi saat ini adalah atmosfer begitu tipis sehingga gas dapat dengan mudah tertiup di angkasa dan berinteraksi dengan air sehingga terbentuk batuan.

Karbonat juga menjadi bukti bahwa air merupakan unsur kimia yang netral. Ini membuat kemungkinan kondisi adanya kehidupan primitif di Mars.

Kumpulan mineral, sifat tekstur dan konteks geologi dari deposit mineral tersebut menunjukkan adanya kemungkinan batuan sedimen telah bermetamorfosa selama penguburan materi vulkanik muda.

Baru Berusia 6 Tahun, Facebook Sudah Berharga 450 Triliun

Facebook, raksasa Internet terbesar saat ini, kembali memasuki babak baru.
Baru-baru ini, jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu menerima suntikan dana baru sebesar US$500 juta, setara Rp4,5 triliun.

Pinjaman itu dilaporkan datang dari Goldman Sachs sebesar US$450 juta (setara Rp4 triliun) dan lembaga riset investasi asal Rusia, Digital Sky Technologies sebesar US$50 juta (setara Rp450 miliar).

Sebelumnya, Facebook telah mencatat lima kali babak pendanaan yang totalnya mencapai US$800 juta, atau sekitar Rp7,2 triliun.

Dengan pendanaan baru ini, jejaring sosial yang baru berusia enam tahun itu telah menerima pendanaan sebesar US$1,3 miliar, setara Rp11,7 triliun.

"Dengan akumulasi suntikan dana tersebut, valuasi Facebook kini sudah meningkat menjadi US$50 miliar (setara Rp450 triliun)," diberitakan New York Times.
Sebagaimana diketahui, harga Facebook sempat naik turun di kisaran US$40-50 miliar pada pasar sekunder dalam beberapa minggu terakhir.

September lalu, jejaring sosial yang menampung lebih dari setengah miliar orang itu masih di kisaran harga US$23-33 miliar, dan pada November naik menjadi US$41 miliar.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Goldman Sachs akan membantu Facebook mendapatkan tambahan dana sebesar US$1,5 miliar. Untuk mencapainya, bank investasi itu akan membuat "kendaraan khusus" yang memungkinkan orang lain untuk berinvestasi di Facebook secara tidak langsung.

Cara ini dipercaya akan membantu Facebook lolos dari persyaratan yang tertulis di dalam regulasi S.E.C, di mana sebuah perusahaan harus memiliki 499 investor untuk menuju IPO(initial public offering).

Kabarnya, Goldman Sachs akan menjadi investor pertama di Facebook nanti. Menurut laporan NYT, Goldman Sachs menawarkan opsi untuk menjual US$75 juta sahamnya ke perusahaan asal Rusia itu.

Hingga saat ini, masih belum jelas apa yang akan dilakukan Facebook dengan uangnya tersebut. Sementara ini, uang itu bisa saja dipakai untuk kas sejumlah karyawan dan investor atau justru menggelar perekrutan karyawan besar-besaran. Yang jelas, untuk melakukan kedua hal tersebut, dana yang baru didapat bisa dibilang terlalu besar.

Rabu, 25 Mei 2011

Sphelar Cells, Tinggal Tempel Untuk Mendapatkan Energi Listrik

Panel surya yang banyak digunakan saat ini akan menjadi masa lalu yang tradisional. Sebuah perusahaan Jepang kini berhasil mengembangkan teknologi pembuatan sel surya yang bar.

Sphelar cells adalah sebuah panel surya dengan disain transparan sehingga tidak akan menghalangi sinar matahari yang akan masuk bila ditempelkan di jendela anda. Selain transparan, panel surya ini juga bersifat fleksibel sehingga bisa kita letakkan tidak hanya di jendela dengan kaca yang rata (flat) tetapi juga di kaca jendela melengkung.

Satu keuntungan tambahan bila panel surya ini fleksibel adalah dapat menyerap sinar matahari lebih optimal bila dibentuk melengkung.

Sphelar Cells yang dibuat oleh Kyosemi Corporation hanya mempunyai ketebalan 1,8 mm dimana artinya kita akan lebih leluasa untuk menempelkan Sphelar Cells dimanapun.
Bukan hanya bisa diaplikasikan di jendela atau atap rumah tetapi hal lainnya seperti salah satunya bahkan di mobil mainan



Namun, Tak hanya itu saja, Karena  Sphelar cells juga hadir dalam bentuk bulat. Sel surya dengan proses teknologi tersebut lebih efisien dan biaya pembuatannya juga jauh lebih murah.
Hasil pengembangan Kyosemi, merupakan sel surya berbentuk bulat sempurna yang bisa dibuat dengan ukuran diameter 1mm. Sel surya tersebut bisa disusun secara serial ataupun paralel dengan menggunakan ratusan bahkan ribuan sel untuk membuat panel surya dalam berbagai bentuk.

Meskipun tampaknya tidak memberikan perbedaan besar dari sel surya lainnya, keuntungan praktis sel surya dengan bentuk tidak datar adalah tidak harus menghadap ke arah sinar matahari dengan tepat. Kenyataannya, Spheral bisa menghasilkan listrik dari sinar matahari yang mengenainya langsung ataupun tidak langsung.

Metode pembuatannya juga efisien. Silikon yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan dengan sel surya konvensional. Sphelar dibentuk dengan mengkristalkan lelehan silikon yang dijatuhkan dari ketinggian 14 meter.
Barangkali yang paling menarik adalah kemampuannya untuk dibentuk sesuai dengan tempat dan bentuk yang diinginkan. Entah itu untuk tempat-tempat yang sulit dibayangkan atau bahkan digunakan di dalam kaca jendela.

Taizo, Robot Ramah Yang Akan Menuntun Para Manula Berolahraga

Jepang memang telah dikenal dengan berbagai temuan teknologi robotnya.
Kali ini, para perancang robot dari National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) di Jepang memperkenalkan robot humanoid terbaru yang dirancang untuk menuntun para manula melakukan olahraga ringan atau latihan fisik.

Data statistik terbaru di Jepang menyebutkan populasi manula di negeri Sakura tersebut telah membludak hingga lebih dari 40.000 orang.

Para manula ini tentunya membutuhkan perawatan kesehatan ekstra. Untuk membantu tim medis dan panti-panti jompo dalam merawat manula.
Para ilmuwan dari AIST tergerak untuk menciptakan sebuah robot bernama Taizo yang berfungsi melatih para manula melakukan gerakan olahraga ringan agar tubuh mereka bisa tetap bugar.

Dengan gaya pakaian ala astronot berbahan beludru, Taizo selalu tampil dengan wajah lucu dan tersenyum.
Para perancangnya berharap, tampilan khas Taizo yang ramah ini akan menarik perhatian para manula dan merangsang mereka agar mau menirukan setiap gerakan Taizo.
Latihan fisik ini tentunya berguna bagi para kalangan lansia yang umumnya pergerakan mereka sudah banyak berkurang.
Untuk menarik greget para lansia, Taizopun memiliki design yang cukup menarik. Senyum lebar terpampang di wajahnya dengan hidung, mata dan kepala yang nyaris bulat menggemaskan.

Ubergimo memberitakan bahwa, dalam tubuh robot dengan tinggi 70 cm ini terdapat sebuah perangkat dengan bobot tujuh kilogram yang berfungsi sebagai pengatur gerak robot ketika memberikan instruksi latihan olahraga.

Perangkat ini membuat Taizo mampu mendemonstrasikan 30 gerakan berbeda yang ditampilkan secara halus dan tidak kaku. Taizo pun bisa mempengaruhi para manula agar mau mengikuti gerakannya.

Taizo yang ditenagai baterai tunggal yang dapat diisi ulang ini memiliki daya tahan operasi selama dua jam. Meski keahlian bahasa Taizo adalah bahasa Jepang dasar, namun para manula bisa memahami perintah dan petunjuk yang diutarakan Taizo untuk menirunya ketika memimpin sebuah kelompok dalam melakukan latihan fisik.

Rencananya, para pengembang Taizo akan segera meluncurkan robot ini ke pasaran dengan harga sekira USD8.000 per unit.

Ilmuwan Temukan Ikan "Hantu" Spesies Baru di Kedalaman Ekstrim

Eksplorasi terhadap salah satu palung laut terdalam di dunia berhasil menemukan spesies baru ikan. Penemuan itu membuktikan kekeliruan anggapan semula bahwa tak ada ikan yang hidup dalam palung laut.
Penemuan ahli biologi kelautan dari Aberdeen, Tokyo, dan Selandia Baru itu telah menyingkap kehidupan di salah satu tempat terdalam di bumi dan distribusi global ikan serta organisme laut lainnya. Ekspedisi ke palung Peru-Cile di Samudra Pasifik tenggara itu menemukan spesies baru snailfish di kedalaman 7.000 meter.
Mereka juga menemukan sekelompok cusk-eel, ikan sejenis belut, dan krustasea pemakan bangkai di kedalaman laut itu untuk pertama kalinya.

Dalam ekspedisi selama tiga pekan di atas kapal riset Sonne itu, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pencitraan canggih, termasuk sistem kamera yang dapat menyelam bebas untuk mengambil 6.000 gambar dalam palung di kedalaman 4.500 dan 8.000 meter.

"Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim."

Para ilmuwan menyelidiki pada salah satu parit terdalam di dunia laut – yang sebelumnya dianggap tidak dihuni ikan – telah menemukan sebuah spesies yang sama sekali baru.
Temuan oleh tim ahli biologi laut dari Aberdeen, Tokyo dan Selandia Baru, telah memberikan penerangan baru tentang kehidupan di tempat-tempat terdalam di bumi dan distribusi global ikan di lautan kita.
Ekspedisi ke dalam parit Peru-Chili di selatan Samudra Pasifik Timur mengungkapkan spesies baru snailfish di kedalaman 7000 meter, belum pernah tertangkap atau terekam kamera.
Kelompok-kelompok masal belut-cusk dan pemakan bangkai crustacean besar juga ditemukan hidup di kedalaman ini untuk pertama kalinya.

Selama tiga minggu ekspedisi dengan kapal riset Sonne, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pencitraan keadaan-seni-kedalaman-laut, termasuk sistem kamera berumpan bebas-tenggelam pada ultra-kedalaman laut, untuk mengambil total 6000 foto di antara 4500 dan 8000  meter di kedalaman parit.
Ini merupakan espedisi ketujuh yang berlangsung sebagai bagian dari HADEEP – sebuah proyek penelitian kolaboratif antara Oceanlab Universitas Aberdeen dan Institut Penelitian Kelautan Universitas Tokyo, dengan dukungan dari Institut Air dan Atmosfer Nasional (NIWA) Selandia Baru.

Tim HADEEP telah menyelidiki kedalaman ekstrim di seluruh dunia selama 3 tahun. Temuan mereka sampai saat ini telah menyertakan penangkapan ikan dengan kamera di dunia terdalam untuk pertama kalinya.
Penemuan-penemuan terbaru ini memberikan wawasan baru ke kedalaman di mana ikan bertahan dan keragaman populasi yang bisa berada di titik-titik terdalam samudera di seluruh dunia.

Dr Alan Jamieson dari Oceanlab Universitas Aberdeen, yang memimpin ekspedisi, mengatakan: “Temuan kami, yang mengungkapkan spesies yang beragam dan melimpah pada kedalaman yang sebelumnya dianggap hampa ikan, akan meminta suatu pemikiran kembali mengenai populasi laut di kedalaman ekstrim.
“Ekspedisi ini dipicu oleh temuan kami tahun 2008 dan 2009 di Jepang dan Selandia Baru, di mana kami menemukan spesies baru snailfish yang dikenal sebagai Liparids – parit-parit tanpa habitat di Jepang dan Selandia Baru pada kedalaman sekitar 7000 meter – dengan masing-masing parit menjadi kediaman tersendiri bagi spesies ikan yang unik.

“Untuk menguji apakah spesies ini akan ditemukan di semua parit, kami mengulang eksperimen kami di sisi lain Samudera Pasifik di Peru dan Chile, sekitar 6000 mil dari pengamatan terakhir kami.” Apa yang kami temukan adalah bahwa memang ada spesies unik lainnya yang hidup,snailfish di kedalaman 7000 meter – spesies yang sama sekali baru bagi ilmu pengetahuan, yang tidak pernah tertangkap atau terlihat sebelumnya.
“Spesies belut-cusk – dikenal sebagai Ophidiids – juga berkumpul di depan kamera kami dan mulai berebut makanan (umpan pada kamera) selama 22 jam – keseluruhan durasi penyebaran.
“Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguraikan apakah ini juga spesies belut-cusk yang sama sekali baru yang telah kami temukan.

“Penyelidikan kami juga mengungkapkan spesies pemakan bangkai crustacea – dikenal sebagai amphipod – yang sebelumnya tidak kami ketahui berada di kedalaman ini dalam jumlah besar.
“Makhluk ini seperti udang besar dalam satu kelompok tertentu, yang disebut Eurythenes, umumnya jauh lebih besar dan lebih banyak berada di parit daripada yang pernah ditemukan sebelumnya.”
Dr Niamh Kilgallen, seorang ahli amphipod dari Niwa mengatakan: “Kelimpahan dari amphipod besar saja sudah sangat luar biasa, khususnya pada kedalaman 7000, dan 8000 meter yang jauh lebih dalam dari yang telah ditemukan di dalam parit lain. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa dan bagaimana mereka dapat hidup di parit yang begitu dalam ini tetapi tidak di tempat lainnya.”

Dr Toyonobu Fujii, ahli ikan laut dari Universitas Aberdeen mengatakan, “Seberapa dalam ikan bisa hidup telah lama menjadi pertanyaan yang menarik, dan hasil dari ekspedisi ini telah memberikan wawasan lebih dalam pada pemahaman kita tentang distribusi global ikan di lautan.”
Dr Jamieson menambahkan: “Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim. Selanjutnya, sekarang jelas bahwa masing-masing dari kedalaman parit di seluruh dunia mengatur perakitan unik hewan yang dapat berbeda jauh dari parit ke parit. Isolasi besar setiap parit menggambarkan kesejajaran dengan teori evolusi kepulauan yang dipopulerkan oleh burung-burungfinch Darwin.” Proyek HADEEP ini didanai oleh Nippon Foundation, Jepang, dan NERC, Inggris.

Selasa, 24 Mei 2011

Korsel Ciptakan Robot Yang Bisa Bermain Drama

Di Korea Selatan, tak hanya manusia yang bermain drama, Robot ternyata juga piawai dalam pertunjukan seni.
Institut Teknologi Industri Korsel (HITECH) membuktikannya kemarin (23/5).
Robot android buatan perguruan tinggi negeri Korsel, yang dinamai EveR-3 atau Eve Robot 3, seorang robot yang didapuk sebagai perempuan, menjadi pemeran utama tontonan drama berjudul "Puteri Robot dan Tujuh Kurcaci".

Sebelumnya, EveR-3 tahun lalu sempat beberapa kali bermain sebagai figuran.
Yang menjadi lawan mainnya adalah aktor manusia (kiri) dan robot lain. Bahkan, EveR-3 sudah beberapa kali tampil dalam pertunjukan drama tahun lalu.
Menurut Lee Ho Gil dari KITECH. drama robot tersebut sukses. Seluruh kursi di gedung pertunjukan terisi atau terjual.

Menurut salah satu perancangnya, Lee Ho Gil dari Institute of Industrial Technology Korsel, robot berwajah ayu setinggi 157 cm ini bisa berkomunikasi dalam dua bahasa, Inggris dan Korea.Dia juga bisa menunjukkan 16 ekspresi di wajahnya.
Menurut Lee, urusan ekspresi wajah adalah hal tersulit dalam proses pembuatan EveR-3. Menurutnya, tak keseluruhan emosi bisa diperlihatkannya. Namun ia puas dengan hasil akhirnya. "Korsel bersungguh-sungguh dalam teknologi robot dan saya pikir EveR-3 adalah langkah maju untuk memperkenalkan pada dunia tentang teknologi kami," ujarnya.

EveR-3 tak hanya akan menjadi bintang tamu di Broadway. Ia juga akan menjamu turis-turis yang datang ke Seoul dengan pertunjukan tetapnya di National Theatre. "Nantinya, robot juga akan diberdayagunakan sebagai pengontrol musik dan tata lampu," tambahnya.
EveR-3 adalah robot kesekian yang dibuat ilmuwan Korsel, setelah sebelumnya membuat robot pelayan, robot pinguin, koala, dan kelinci serta model-model lain. Tahun 2007 lalu, robot bernama Tiro menjadi MC dalam pernikahan salah seorang desainernya.

Suku Aborigin Adalah Astronom Pertama di Dunia?

Astronom pertama di dunia adalah suku Aborigin? Studi Australia memaparkan, suku ini menjadi astronom pertama sejak zaman Stonehenge dan Piramid.
Astronom Commonwealth Scientific and Research Organization (CSIRO) Australia, Profesor Ray Norris mengatakan pengetahuan menyangkut bintang telah diturunkan secara turun temurun oleh suku Aborigin selama ribuan tahun dalam bentuk lagu tradisional dan cerita.
“Ada banyak cerita mengenai angkasa, lagu, legenda dan mitos,” kata Norris.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, Norris menemukan bahwa orang-orang ini menggunakan langit sebagai navigasi untuk menentukan waktu dan menandai musim.
Melalui penelitiannya, ia berhasil mengungkap detail pemikiran astronomi suku itu.
“Jelas sekali, beberapa pemikir kala itu bersembunyi dibalik semak, melihat gerhana dan mencari tahu cara kerjanya,” jelas Norris.
Kemudian para pemikir itu mengubah pemikiran mereka menjadi lagu dan upacara.
“Menurut cerita mereka, gerhana adalah wanita matahari dan pria bulan yang sedang bercinta.”
Saat ini, Norris sedang mencari bukti untuk menentukan kapan Aborigin menjadi astronom.
Norris mencari bukti-bukti penanda berbagai kejadian penting dalam rekaman astronomi Aborigin kuno ini, seperti peristiwa jatuhnya meteor atau penampakan komet, untuk memberikan kerangka waktu masa hidup peradaban tersebut.

Ia yakin, para astronom Aborigin sudah ada jauh sebelum orang-orang di Eropa mulai mengamati langit, seperti yang terlihat dari peninggalan arkeologi di Stonehenge, Inggris, yang berasal dari era tahun 3.500 sebelum Masehi atau kira-kira pada zaman yang sama dengan peradaban piramida raksasa di Mesir.
“Kami mengetahui astronomi mereka, apa yang tidak kami ketahui adalah sejak kapan mereka memulainya"
"Jika hal ini dimulai 10 ribu atau 20 ribu tahun lalu, maka astronom dari suku Aborogin merupakan suku astronom pertama di dunia,” katanya.

'Airburst' Dapat Sebabkan Kiamat Pada Bumi

Lupakan bayangan asteroid besar mengancam bumi seperti di film “Armageddon”. Penghuni bumi justru harus mewaspadai asteroid yang lebih kecil.

Asteroid-asteroid yang memiliki ukuran lebih kecil dapat meledak di atmosfer bumi.

Menurut ilmuwan, batu luar angkasa yang meledak (airburst) pada 1908 di Tunguska dan Siberia jauh lebih mengancam. Objek seperti itu dapat menghantam bumi setiap 12 tahun.

Bahaya ledakan asteroid itu menjadi pembicaraan di konferensi Luar Angkasa 2010 September lalu di California, Amerika Serikat.

Fisikawan Mark Boslough dari Sandia National Laboratories Albuquerque mengatakan, “Kami belum mengetahui fisik airburst, dan penelitian tentang hal itu belum pernah dilakukan.”

Menurut model airburst yang ada, Boslough menyebutkan ledakan ini mengeluarkan panas tinggi dan menciptakan ledakan angin yang sangat besar hingga menyentuh tanah.

“Kita memang harus memikirkan hal kecil,” katanya. Selain itu, asteroid yang cukup besar dan berhasil masuk ke dalam atmosfer bumi sebelum meledak akan menciptakan gas mendesis yang dapat membakar apa pun.

Vegetasi akan menguap dan batu meleleh, pendeknya ledakan itu sangat mengerikan. Situasi serupa pernah terjadi 30 juta tahun lalu di gurun Libya, kata Boslough.

Secara statistik, kemungkinan bumi dihantam objek besar menjadi kecil dengan banyaknya asteroid-asteroid kecil ditemukan.

“Ada banyak objek kecil sehingga kita sebaiknya membuat lebih banyak teleskop,” katanya.

Jika objek kecil ini ditemukan “Kita tak punya pilihan selain menerima hantamannya,” katanya.

Direktur Center for Orbital and Reentry Debris Studies Bill Ailor mengatakan, “Kita selalu membicarakan asteroid besar saja dan kita berhasil melewati ancaman itu.

Namun, asteroid kecil terus menjadi ancaman dan tantangannya adalah apa yang akan kita lakukan.”

Senada, manager Near-Earth Object Program Office NASA, Don Yeomans di Jet Propulsion Labolatory Pasadena, California mengatakan, “Kita bisa mendeteksi asteroid besar, namun masih sangat jauh untuk dapat mendeteksi yang kecil.”

“Kita harus mencari mereka sebelum mereka menemukan kita.”

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes